Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Waspadai! Ini Deretan Penyebab Kanker Payudara yang Sering Diabaikan

Dedy Nurhamsyah • Selasa, 24 Juni 2025 | 05:00 WIB

Photo
Photo

JP Radar Nganjuk- Kanker payudara masih menjadi penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada perempuan di Indonesia. Meski penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui, sejumlah penelitian telah mengidentifikasi berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini.

Faktor genetik menjadi salah satu penyebab utama. Mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 terbukti meningkatkan risiko kanker payudara secara signifikan. Selain itu, riwayat keluarga dekat—seperti ibu, saudara perempuan, atau nenek—yang pernah mengidap kanker payudara juga menjadi indikator risiko tinggi.

Usia turut memegang peran penting. Risiko kanker payudara meningkat secara signifikan setelah usia 50 tahun. Semakin tua usia seseorang, semakin tinggi kemungkinan terjadi perubahan genetik yang tidak normal dalam sel payudara.

Siklus reproduksi dan paparan hormon juga menjadi perhatian utama para ahli. Perempuan yang mengalami menstruasi pertama sebelum usia 12 tahun, mengalami menopause setelah usia 55 tahun, atau tidak pernah melahirkan, cenderung memiliki risiko lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh lamanya tubuh terpapar hormon estrogen, yang berperan dalam pertumbuhan sel payudara.

Gaya hidup tak luput dari sorotan. Obesitas, terutama setelah menopause, konsumsi alkohol berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko kanker. Sementara paparan radiasi pada dada, terutama pada usia muda—misalnya akibat terapi radiasi—juga tercatat sebagai faktor risiko signifikan.

Penggunaan obat hormonal pun memiliki kontribusi. Pemakaian kontrasepsi hormonal seperti pil KB dalam jangka panjang sedikit meningkatkan risiko. Begitu pula dengan terapi pengganti hormon (HRT) yang umum diberikan pada perempuan pascamenopause.

Selain itu, beberapa faktor lain yang juga turut berperan antara lain kepadatan jaringan payudara yang tinggi (terlihat melalui hasil mammografi), riwayat penyakit payudara jinak seperti hiperplasia atipikal, serta paparan bahan kimia tertentu yang masih terus diteliti dampaknya terhadap kanker.

Deteksi Dini Tetap Menjadi Kunci

Meski banyak faktor telah diidentifikasi, para ahli menegaskan bahwa kanker payudara bisa saja muncul tanpa adanya faktor risiko yang jelas. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah pencegahan paling efektif.

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sebaiknya dilakukan setiap bulan. Sementara itu, mammografi rutin umumnya dianjurkan bagi perempuan di atas usia 40 tahun atau sesuai anjuran dokter. Menjaga berat badan ideal, aktif secara fisik, dan menghindari konsumsi alkohol juga disarankan sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara, konsultasi genetik menjadi langkah bijak untuk memahami tingkat risiko dan tindakan pencegahan yang tepat.

Editor : Jauhar Yohanis
#KB #payudara #deteksi dini #kanker