JP RADAR NGANJUK - Sarapan sering disebut sebagai “bahan bakar” utama tubuh dalam menjalani aktivitas. Namun, masih banyak orang melewatkan waktu makan pagi dengan alasan terburu-buru. Padahal, tidak sarapan bisa memicu reaksi biologis dalam tubuh, mulai dari turunnya energi, gangguan konsentrasi, hingga risiko penyakit jangka panjang.
Sarapan adalah sumber glukosa pertama setelah tubuh berpuasa semalaman. Glukosa ini dibutuhkan untuk aktivitas otak dan otot. Menurut Harvard Medical School, melewatkan sarapan membuat kadar gula darah rendah sehingga tubuh terasa lemas, sulit fokus, dan cepat lelah.
Otak hanya bisa menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Saat kadar gula darah turun karena tidak sarapan, neurotransmitter (zat kimia otak) tidak bekerja maksimal. Inilah mengapa sulit berkonsentrasi, mudah lupa, atau lambat dalam mengambil keputusan.
Selain itu, lambung tetap memproduksi asam walau tidak ada makanan yang masuk. Jika kosong terlalu lama, asam lambung mengiritasi dinding lambung. Hal ini menimbulkan rasa perih, mual, atau heartburn. Dalam jangka panjang kondisi demikian bisa memicu gastritis.
Tidak sarapan juga dapat memicu nafsu makan berlebih. Kadar hormon ghrelin (hormon lapar) dapat meningkat ketika kita tidak sarapan. Ghrelin yang tinggi memicu keinginan makan berlebihan di siang atau malam hari. Akibatnya, asupan kalori justru bertambah.
Jika sering melewatkan sarapan, tubuh terbiasa berada dalam kondisi “stres metabolik.” Penelitian menunjukkan, hal ini meningkatkan resistensi insulin (cikal bakal diabetes tipe 2), obesitas, hingga penyakit jantung.
Melewatkan sarapan bukan sekadar membuat perut keroncongan. Di dalam tubuh, kadar glukosa turun, otak kekurangan bahan bakar, asam lambung naik, hormon lapar melonjak, dan metabolisme terganggu. Jadi, jangan sepelekan sarapan.
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis