Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Awas, Stres Bisa Mengakibtkan Gangguan Perut. Apa Hubungannya?

Internship Radar Kediri • Jumat, 29 Agustus 2025 | 17:58 WIB
Gambar hubungan otak dan usus
Gambar hubungan otak dan usus

JP RADAR NGANJUK-Siapa sangka, rasa cemas atau tekanan pikiran ternyata bisa “turun” ke perut dan membuat kita sakit perut, mulas, atau bahkan diare. Bagi sebagian orang, gejala itu sering dianggap sepele, padahal fenomena ini punya dasar ilmiah. Hubungan erat antara otak dan usus dikenal dengan istilah gut-brain axis, sebuah sistem komunikasi dua arah yang membuat keduanya saling memengaruhi.

Otak dan Usus: Dua Organ yang Saling Bicara

Dalam dunia medis, hubungan ini disebut gut-brain axis sebuah jaringan komunikasi dua arah antara otak dan sistem pencernaan. Menurut Harvard Health Publishing (2021), komunikasi ini melibatkan saraf vagus, hormon, hingga zat kimia yang diproduksi oleh bakteri di usus.

Tidak heran jika usus mendapat julukan “otak kedua”. Faktanya, usus memiliki lebih dari 100 juta sel saraf (NCBI, 2019), jumlah yang bahkan lebih banyak daripada sumsum tulang belakang. Sel saraf ini membuat usus bisa “berpikir” dan merespons tanpa selalu menunggu perintah dari otak.

Itulah sebabnya, perasaan cemas, marah, atau bahagia bisa langsung tercermin pada kondisi perut. Begitu pula sebaliknya, usus yang bermasalah bisa mengirim sinyal ke otak dan memengaruhi suasana hati.

Bagaimana Stres Merusak Sistem Pencernaan?

Stres pada dasarnya adalah reaksi alami tubuh. Saat menghadapi ancaman, tubuh masuk ke mode fight or flight, yang ditandai dengan lonjakan hormon adrenalin dan kortisol. Masalahnya, kondisi ini membuat sistem pencernaan ikut terganggu.

Kita sering menyebut rasa gugup dengan istilah “butterflies in the stomach”. Itu sebenarnya manifestasi nyata komunikasi otak-usus. Jika terjadi sekali-sekali, tidak masalah. Namun, bila stres berlangsung lama, dampaknya bisa serius: gangguan lambung kronis, gastritis, hingga GERD.

Bahkan ada penelitian menarik yang menemukan bahwa penderita depresi atau cemas lebih berisiko mengalami gangguan pencernaan dibandingkan mereka yang emosinya stabil (Harvard Health, 2021). Artinya, kesehatan mental dan pencernaan memang saling terkait erat.

Menjaga Keseimbangan Otak dan Usus

Kabar baiknya, kita bisa mengurangi dampak stres pada pencernaan dengan kebiasaan sederhana. Berikut beberapa cara yang disarankan para ahli:

  1. Meditasi & mindfulness
    Riset dari National Center for Complementary and Integrative Health (2021) menunjukkan bahwa meditasi rutin mampu menurunkan kadar kortisol dan membuat sistem pencernaan lebih stabil.
  2. Olahraga ringan tapi konsisten
    Jalan kaki, yoga, atau bersepeda dapat meningkatkan hormon endorfin yang membuat tubuh lebih rileks sekaligus memperlancar metabolisme.
  3. Perhatikan asupan makanan
    • Konsumsi serat dari buah, sayur, dan biji-bijian.
    • Tambahkan probiotik dari yogurt, tempe, atau kimchi untuk menjaga mikrobiota usus.
    • Batasi kafein dan makanan pedas yang bisa memperparah gejala saat stres.
  4. Tidur cukup
    Tidur yang berkualitas memperbaiki sistem saraf sekaligus memberi kesempatan usus untuk “beristirahat”.
  5. Luangkan waktu untuk relaksasi
    Cobalah aktivitas sederhana seperti membaca buku, mendengarkan musik, atau sekadar jalan santai sore hari.

Uniknya, gut-brain axis ini bersifat dua arah. Artinya, bukan hanya stres yang memengaruhi perut, tetapi kondisi usus juga bisa memengaruhi otak. Ketidakseimbangan mikrobiota usus misalnya, terbukti berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan mood seperti kecemasan dan depresi (Harvard Health, 2021). Dengan kata lain, menjaga usus tetap sehat sama artinya dengan menjaga pikiran tetap tenang.

Stres mungkin tidak bisa kita hindari sepenuhnya. Namun, memahami bagaimana otak dan usus saling terhubung membuat kita lebih bijak menjaga keduanya. Jadi, jika suatu hari perutmu “berontak” saat sedang tegang, jangan anggap sepele. Itu adalah cara tubuh memberi sinyal bahwa sudah waktunya menenangkan pikiran.

 

Penulis: Melanie Putri Devianasari-Mahasiswa Magang UN PGRI Kediri

Editor : Jauhar Yohanis
#usus #stress #fenomena #otak #hubungan