Namun, dibalik narasi “kulit glowing tanpa ribet” itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih serius risiko medis yang sering kali tak disadari.
Beberapa waktu lalu, sebuah video viral memperlihatkan seorang tenaga kesehatan yang melakukan infus pemutih pada dirinya sendiri, lengkap dengan alat medis. Tindakan tersebut sontak menuai perdebatan. Warganet terbagi dua sebagian penasaran ingin mencoba, sebagian lagi ngeri membayangkan efeknya.
Salah satu suara tegas datang dari dr. Listya Paramita, Sp.DVE, dokter spesialis dermatologi, venerologi, dan estetika lulusan Universitas Gadjah Mada. Melalui akun Instagram pribadinya @drmita.spkk, ia memberikan klarifikasi yang kini banyak disebarkan ulang oleh media kesehatan.
“Dalam dunia medis, kami tidak mengenal istilah suntik putih, infus putih, atau infus whitening,” tegasnya.
“Itu semua istilah non-medis yang dipakai untuk jualan, bukan terminologi yang diakui dalam dermatologi.”
Menurut dr. Mita, istilah “suntik putih” tidak tercantum dalam literatur medis mana pun. Prosedur tersebut, katanya, biasanya dipromosikan oleh pihak non-medis dengan memanfaatkan keinginan masyarakat untuk tampil cerah secara instan.
“Dari sisi kesehatan, tindakan itu tidak pernah disetujui. Bahkan sampai sekarang belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa infus pemutih aman dilakukan,” ujarnya.
Sebagian orang mengira suntik pemutih hanya berpengaruh pada warna kulit. Faktanya, cairan yang dimasukkan langsung ke dalam pembuluh darah dapat berdampak pada organ vital, seperti hati dan ginjal. Apalagi jika dilakukan berulang tanpa pengawasan dokter yang kompeten.
“Tidak ada yang bisa menjamin tindakan itu aman. Tidak ada yang bisa menjamin tidak akan muncul efek kesehatan di kemudian hari,” kata dr. Mita Ia menekankan bahwa kulit putih sementara tidak sepadan dengan risiko kerusakan organ permanen yang mungkin terjadi.
“Daripada infus ini-itu, lebih baik jaga kesehatan kulit dan tubuh dengan cara yang benar,” ujarnya. “Kan tidak lucu kalau ujung-ujungnya gagal ginjal hanya karena ingin kulit putih.”
Dorongan untuk tampil menarik seringkali membuat seseorang melupakan sisi rasional. Kulit cerah dianggap standar kecantikan ideal, seolah warna kulit alami tak cukup cantik. Padahal warna kulit ditentukan oleh faktor genetik dan pigmen melanin yang memiliki fungsi penting melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet. Jika kadar melanin ditekan secara ekstrem melalui zat-zat kimia tertentu, kulit justru kehilangan pelindung alaminya. Akibatnya, risiko kanker kulit, hiperpigmentasi, dan penuaan dini bisa meningkat.
Baca Juga: Kulit Cerah Alami dengan Masker Oat, Rahasia Perawatan Wajah yang Lembut dan Aman
Untuk mendapatkan kulit sehat gunakan tabir surya setiap hari, cukupi asupan air dan nutrisi bergizi, serta hindari paparan sinar matahari berlebihan. Suntik putih mungkin memberi hasil cepat, tapi cepat pula hilangnya dan bisa meninggalkan dampak yang tidak sepadan. Dibandingkan mengejar kulit cerah dalam semalam, lebih baik memilih perawatan yang teruji secara klinis dan disertifikasi oleh BPOM.
Kecantikan sejati, seperti diingatkan dr. Listya Paramita, tak pernah datang dari jalan pintas. Ia tumbuh dari pola hidup sehat, perawatan yang tepat, dan penerimaan diri yang utuh. Kulit sehat, apapun warnanya, tetap jauh lebih berharga daripada kulit putih yang diperoleh lewat cara berisiko. Pada akhirnya, cantik memang relatif tapi sehat adalah mutlak.
Artikel ini ditulis oleh Annisa Aulia Mujiono Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya-Magang Jawa Pos Radar Kediri
Editor : Karen Wibi