Perkuat Pencegahan Penyakit, Fakultas Kedokteran Unusa Kenalkan Inovasi Herbal dan Edukasi Kesehatan

Anwar Bahar Basalamah • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:15 WIB
Foto: Dok. FK Unusa
Foto: Dok. FK Unusa

 

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit terus dilakukan melalui kegiatan edukasi kesehatan berbasis promotif dan preventif. Salah satunya melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Bukur, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk, yang mengangkat edukasi mengenai Tuberkulosis (TBC) dan Demam Berdarah Dengue (DBD).

 

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat bertajuk Pemberdayaan Kader dan Keluarga dalam Pencegahan dan Pendampingan Tuberkulosis Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) melalui Edukasi dan Inovasi Herbal di Desa Bukur, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk.

 

Program ini berfokus pada peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan dan pendampingan TBC sekaligus membangun peran aktif kader kesehatan dan keluarga.

 

Program ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari tim pengabdian, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, keluarga, hingga masyarakat. Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Pelaksana Dr. Handayani, dr., M.Kes., serta dihadiri oleh Camat Tri Hatmanto Wibowo, ST, Perwakilan Puskesmas Patianrowo dr. Khabib Rumini, Kepala Desa Bukur Nur Yahya, dr. Ratna Sofaria Munir, MS., AFK, Asisten Fakultas Kedokteran Unusa, dan 10 mahasiswa Fakultas Kedokteran Unusa.

 

 Baca Juga: SMPN 1 Berbek Berprestasi! Jadi Perwakilan Kabupaten Nganjuk untuk Sekolah Adiwiyata Nasional

 

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat upaya pencegahan penyakit sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kesehatan lingkungan dan keluarga.

Foto: Dok. FK Unusa
Foto: Dok. FK Unusa

 

Kegiatan pengabdian masyarakat di Balai Desa Bukur diikuti oleh sebanyak 50 peserta, sedangkan edukasi kesehatan di MTs Zahrotul Ulum diikuti oleh 70 peserta. Rangkaian kegiatan meliputi penyuluhan, demonstrasi, diskusi, serta pembagian leaflet edukasi mengenai TBC dan DBD.

 

Melalui berbagai metode tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan informasi kesehatan, tetapi juga diberikan kesempatan untuk berinteraksi, berdiskusi, dan memahami secara lebih praktis langkah-langkah pencegahan penyakit.

 

Baca Juga: Stop Pertalite untuk Desil 9-10? Ini Kata Pertamina

 

TBC merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan. Karena itu, kepatuhan dalam menjalani pengobatan hingga tuntas menjadi hal yang sangat penting. Dukungan keluarga dan kader kesehatan juga diperlukan untuk membantu pasien menjalani pengobatan secara teratur.

 

Selain TBC, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai Demam Berdarah Dengue (DBD). Edukasi ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap DBD serta mendorong kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan berbagai upaya pencegahan penyakit.

 

Tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, kegiatan ini juga memperkenalkan inovasi minuman herbal berbasis bahan alami yang merupakan kombinasi sambiloto (Andrographis paniculata), jahe (Zingiber officinale), dan kunyit (Curcuma longa). Ketiga bahan tersebut memiliki kandungan senyawa aktif yang dalam materi kegiatan dikaitkan dengan aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan imunomodulator. Pengenalan inovasi tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan potensi lokal dalam mendukung edukasi kesehatan masyarakat.

 

Dalam kegiatan tersebut, minuman herbal diperkenalkan sebagai pendamping, bukan sebagai pengganti pengobatan utama TBC. Pengobatan medis tetap menjadi bagian utama dalam penanganan TBC, sedangkan inovasi herbal ditempatkan sebagai pelengkap sesuai dengan arahan tenaga kesehatan.

 

Pendekatan melalui edukasi dan inovasi tersebut diharapkan dapat membuat masyarakat lebih mudah memahami pentingnya menjaga kesehatan. Selain meningkatkan pengetahuan, kegiatan juga menjadi sarana untuk membangun kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam pencegahan penyakit.

 

Menurut Ketua Pelaksana Dr. Handayani, dr., M.Kes., pengenalan inovasi minuman herbal berbahan sambiloto, jahe, dan kunyit merupakan bagian dari upaya memperkenalkan potensi bahan alam kepada masyarakat.

 

“Sambiloto, jahe, dan kunyit memiliki kandungan senyawa aktif yang berpotensi memberikan manfaat sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan imunomodulator. Namun, inovasi herbal ini diperkenalkan sebagai pendamping dan bukan sebagai pengganti pengobatan medis, khususnya dalam penanganan TBC. Masyarakat tetap perlu mengikuti pengobatan dan arahan dari tenaga kesehatan,” jelasnya.

Kegiatan pengabdian turut menekankan pentingnya peran kader kesehatan dan keluarga. Keduanya memiliki posisi strategis dalam mendukung pencegahan maupun pendampingan pasien, sekaligus menjadi penghubung antara masyarakat dengan tenaga kesehatan.

Program ini juga diarahkan untuk membangun kolaborasi antara tim pengabdian, pemerintah desa, Puskesmas Patianrowo, MTs Zahrotul Ulum, kader kesehatan, dan masyarakat.

 

Tidak berhenti di lingkungan masyarakat, edukasi kesehatan juga diberikan kepada siswa-siswi MTs Zahrotul Ulum. Para siswa mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya menjaga kesehatan serta meningkatkan kesadaran terhadap pencegahan penyakit, khususnya TBC dan DBD.

 

Pelibatan siswa menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran kesehatan sejak usia sekolah. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan turut dibagikan kepada keluarga maupun lingkungan sekitar.

 

Melalui edukasi TBC dan DBD serta pengenalan inovasi minuman herbal, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, tenaga kesehatan, kader, keluarga, dan masyarakat.

Editor : Shinta Nurma Ababil
unusa penyalit kesehatan nganjuk