JP Radar Nganjuk - Bayangkan aroma rica-rica nyambek yang menggoda, disajikan hangat di meja makan. Tapi, sebelum tergiur mencicipi kuliner eksotis ini, pernahkah terpikir: bolehkah biawak dimakan menurut agama?
Pertanyaan ini bukan cuma soal selera, melainkan juga soal keyakinan yang bisa bikin hati waswas.
Terutama di Indonesia, di mana Islam jadi pedoman banyak orang, hukum makan biawak sering memicu diskusi seru.
Tenang, Anda tidak perlu menyisir buku-buku tebal atau bingung mencari jawaban.
Artikel ini akan menjelaskan langsung dalil dan hukum makan biawak, khususnya dalam pandangan Islam, dengan sedikit gambaran dari agama lain.
Tanpa basa-basi, mari kita kupas aturan agama agar Anda bisa menikmati makanan dengan hati tenang!
Dalam Islam, hukum makan biawak menjadi perdebatan di kalangan ulama karena sifat hewan ini yang unik.
Al-Qur’an (Surah Al-Maidah: 96) menyebutkan bahwa hewan laut dan buruan yang halal boleh dimakan, tetapi hewan darat harus memenuhi syarat tertentu.
Biawak, yang hidup di darat dan kadang dekat air, sering dianggap tidak memenuhi syarat kehalalan.
Mazhab Syafi’i, yang banyak dianut di Indonesia, mengharamkan biawak karena dianggap hewan menjijikkan (mustakhbats) dan predator, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab fiqih seperti Al-Majmu’ karya Imam Nawawi.
Selain itu, biawak tidak termasuk hewan yang secara eksplisit disebut halal dalam hadis.
Namun, ada pandangan berbeda. Mazhab Hanafi dan sebagian ulama memperbolehkan makan biawak karena menganggapnya mirip dengan dabb (kadal gurun), yang disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim sebagai hewan yang dimakan sahabat Nabi tanpa larangan.
Dalam riwayat tersebut, Khalid bin Walid menceritakan bahwa dabb dimakan di hadapan Rasulullah SAW, dan beliau tidak melarangnya.
Meski begitu, karena biawak dianggap berbeda dari dabb oleh banyak ulama (terutama karena habitat dan sifatnya), pandangan yang mengharamkan lebih dominan di kalangan masyarakat Indonesia.
Prinsip “menghindari yang syubhat” (meragukan) juga mendorong umat Islam untuk berhati-hati, sebagaimana anjuran dalam hadis riwayat Bukhari: “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju yang tidak meragukanmu.”
Di luar Islam, pandangan agama lain juga bervariasi. Dalam Kristen, tidak ada larangan spesifik tentang makan biawak, selama makanan itu dianggap bersih dan sesuai dengan konteks iman (1 Korintus 10:25-26).
Namun, dalam praktik, banyak umat Kristen menghindari biawak karena alasan budaya atau kesehatan.
Dalam Hindu dan Buddha, biawak sering dihindari karena prinsip ahimsa (tidak menyakiti makhluk hidup) atau karena dianggap tidak suci, meskipun ini bergantung pada tradisi lokal.
Di beberapa daerah Indonesia, seperti Sulawesi, biawak dimakan sebagai makanan tradisional, tetapi persepsi budaya tidak selalu selaras dengan aturan agama.
Jadi, apa kesimpulannya? Bagi umat Islam, lebih aman menghindari makan biawak, terutama jika mengikuti mazhab Syafi’i atau merasa ragu, agar terhindar dari yang syubhat.
Jika Anda penasaran dengan rica-rica nyambek, konsultasikan dengan ulama terpercaya untuk menyesuaikan dengan keyakinan Anda.
Yang terpenting, pastikan setiap makanan yang Anda konsumsi tidak mengganggu ketenangan hati dan iman.
Makanan eksotis memang menggoda, tapi keyakinan adalah pegangan yang lebih berharga.
Jika rica-rica nyambek terlalu bikin galau, cobalah beralih ke rica-rica ayam atau ikan yang pasti halal dan lezat. Nikmati kuliner dengan penuh syukur dan tanpa keraguan!
Editor : Elna Malika