JP Radar Nganjuk- Sosok hantu yang karib untuk menunjang pesugihan dikenal dengan sebutan tuyul. Makhluk gaib penghasil uang secara instan itu juga populer dengan nama setan gundul.
Di masa dahulu kala, banyak orang yang ingin cepat kaya dalam sekejap menempuh jalan pintas. Mereka mengikat perjanjian gaib dengan memelihara tuyul.
Aksi tuyul memang jitu. Sebagai makhluk astral mereka mampu mencuri uang tanpa diketahui pemiliknya.
Bahkan memasuki rumah tanpa terlihat. Namun ternyata tidak semua tempat dapat dibobol oleh figur dedemit legendaris yang berwujud anak-anak ini.
Melansir dari kanal Youtube praktisi kejawen Mbak Widri, disebutkan, tuyul tak dapat mencuri uang di Automatic Teller Machine (ATM). Salah satu alasannya adalah tuyul tidak dapat mencuri uang yang tidak jelas asal usul dan pemiliknya.
Nah, di bank atau anjungan tunai mandiri (ATM) merupakan tempat menyimpan uang dari masyarakat banyak. Sehingga tuyul tidak bisa mencuri uang yang ada di ATM maupun bank. Sebab dia hanya mengincar uang milik perorangan saja.
Biasanya, menurut Mbak Widri, sebelum beraksi pada malam hari, di siang harinya tuyul sudah berkeliling mencari calon targetnya. Selain itu, pemilik tuyul akan menunjukkan rumah dan siapa calon korbannya.
Di samping itu, tuyul tidak bisa mencuri uang di ATM karena tidak menyukai besi atau logam. Kabarnya mereka juga tidak bisa mencuri uang yang terikat, seperti karet ataupun ditutup dalam mesin besi.
Hal itu konon tidak terlepas dari sifat tuyul yang mirip anak-anak. Pada intinya mereka tidak suka mengambil uang di tempat yang rumit.
Entah sejak kapan kepercayaan soal tuyul ini muncul. Hingga kini turun temurun masih berkembang di masyarakat Indonesia.
Namun nyatanya konsep tuyul ini ternyata pernah diteliti sejarawan dan antropolog. Clifford Geertz, seorang ahli antropolog asal Amerika Serikat, pernah secara khusus meneliti tentang tuyul.
Baca Juga: Di Balik Rahang Ganas, Ada Cinta Ibu: Kisah Mengharukan dari Seekor Buaya
Geertz meneliti sebuah kota kecil di Mojokuto, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur pada era 1950-an. Ia menemui tukang kayu yang menceritakan tentang makhluk halus dan klasifikasinya, yaitu memedi, lelembut, dan tuyul.
Penelitiannya menyebut sosok tuyul menyerupai anak-anak. Namun, mereka bukan manusia tetapi anak-anak makhluk halus.
Mereka tidak mengganggu, menakut-nakuti atau membuat orang sakit. Tetapi sebaliknya, mereka sangat disenangi oleh manusia karena bisa membuatnya jadi kaya.
Sejarawan berpendapat bahwa awalnya tuyul muncul akibat kesenjangan sosial antara kalangan masyarakat agraris dengan tuan tanah dan pedagang.
Bantuan makhlus halus dianggap sebagai cara paling mudah untuk melancarkan segala urusan perniagaan yang kian rumit bagi warga desa kala itu.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira