JP Radar Nganjuk – Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat Islam dianjurkan menjalankan puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah.
Kedua puasa ini memiliki keutamaan tersendiri dan menjadi persiapan spiritual untuk menyambut hari besar tersebut.
Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Nama Tarwiyah sendiri bermakna ‘mengambil air’ atau ‘merenung’.
Pada zaman dulu, para jamaah haji mengisi persediaan air di hari ini untuk persiapan menuju Arafah.
Meskipun tidak disebutkan secara khusus dalam hadits tentang keutamaannya, puasa Tarwiyah tetap dianjurkan sebagai amalan sunnah yang mendekatkan diri kepada Allah.
Sementara itu, puasa Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah, bertepatan dengan hari wukuf di Padang Arafah bagi jamaah haji.
Puasa ini sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan besar. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim).
Karena itu, puasa ini menjadi amalan sunnah yang sangat utama bagi umat Islam yang tidak menunaikan ibadah haji.
Untuk menjalankan kedua puasa ini, niat adalah syarat utama.
Niat puasa Tarwiyah dan Arafah bisa dilakukan sejak malam hari hingga sebelum tergelincirnya matahari pada siang hari.
Berikut lafadz niat puasa Tarwiyah:
“Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala” yang artinya “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”
Sedangkan niat puasa Arafah berbunyi:
“Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta’ala” yang berarti “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”
Pelaksanaan puasa Tarwiyah dan Arafah sama dengan puasa sunnah lainnya, yakni makan sahur sebelum fajar, menahan diri dari makan, minum, dan hal yang membatalkan puasa, menjaga lisan dan perbuatan selama berpuasa, serta berbuka saat waktu maghrib tiba.
Dengan menjalankan puasa Tarwiyah dan Arafah, umat Islam dapat membersihkan diri dari dosa dan meningkatkan kualitas ibadah menjelang hari raya Idul Adha.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira