Menjadi orang tua adalah profesi seumur hidup. Tidak ada sekolah formal untuk itu, tapi Islam telah memberikan panduan jelas — lewat teladan Nabi Muhammad SAW. Bagi Rasulullah, menjadi orang tua bukan sekadar memberi makan dan menyekolahkan anak, tapi juga membentuk akhlak dan menyentuh jiwa mereka.
Yang menarik, Rasulullah tidak mendidik dengan marah-marah atau tekanan. Ia memilih jalur kasih sayang, kelembutan, dan doa. Berikut beberapa prinsip pengasuhan ala Nabi Muhammad SAW yang bisa ditiru orang tua masa kini.
Kasih Sayang, Bukan Kekerasan
Nabi Muhammad dikenal sangat penyayang terhadap anak-anak. Ia sering menggendong, mencium, bahkan bermain dengan cucu-cucunya, Hasan dan Husain. Padahal di masa itu, hal semacam itu dianggap "kurang maskulin". Tapi Rasulullah justru mencontohkan sebaliknya.
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak-anak,” sabdanya.
(HR. Tirmidzi)
Suatu ketika, ada sahabat yang berkata ia tidak pernah mencium anaknya. Nabi pun menjawab, “Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.” Pesannya jelas: sayangi dulu, baru anak bisa tumbuh baik.
Lembut dalam Menegur
Kalau anak berbuat salah, bukan berarti harus dimarahi atau dihukum keras. Rasulullah memilih pendekatan yang tenang dan penuh hikmah. Misalnya, ketika ada anak yang bicara saat salat berjamaah, Rasul tidak membentak. Ia menunggu selesai salat, lalu menasihati dengan lembut.
Gaya mendidik ini menunjukkan bahwa anak lebih mudah mendengar saat hatinya disentuh, bukan saat dimarahi.
Luangkan Waktu, Bukan Sekadar Uang
Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin umat, tapi ia tetap meluangkan waktu untuk anak-anak. Ia menggendong cucunya saat salat, dan membiarkan mereka bermain di punggungnya. Ini menunjukkan bahwa anak lebih membutuhkan perhatian dibanding hadiah mahal.
Orang tua zaman sekarang kadang terlalu sibuk. Padahal, duduk lima belas menit mendengarkan cerita anak bisa jauh lebih bermakna daripada memberi mainan terbaru.
Ajar Agama Lewat Cinta
Rasulullah mengenalkan salat dan akhlak dengan cara bertahap dan penuh kelembutan. Anak diajarkan salat di usia 7 tahun, dan mulai ditegaskan di usia 10 — bukan dengan kekerasan, tapi dengan pembiasaan.
Ia tidak membuat anak takut kepada Allah, tapi justru menanamkan rasa cinta kepada-Nya.Baca
Juga: Kenapa Anak Tidak Mau Sekolah? Ini Penyebab dan Peran Pola Asuh Orang Tua
Adil Itu Penting
Satu waktu, ada sahabat yang memberi hadiah ke salah satu anaknya saja. Rasul menegur: “Apakah semua anakmu engkau beri seperti itu?” Ketika dijawab tidak, beliau berkata, “Bertakwalah kepada Allah, dan bersikap adillah terhadap anak-anakmu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, anak-anak harus diperlakukan secara adil. Bukan berarti semua harus sama persis, tapi pastikan semuanya merasa dicintai dan dihargai.
Jangan Lupa Doakan Anak
Selain mendidik, Rasulullah juga rajin mendoakan anak-anak. Kepada Abdullah bin Abbas, beliau pernah berdoa: “Ya Allah, berilah ia pemahaman dalam agama dan ajarkan ia tafsir.”
(HR. Ahmad)
Orang tua perlu ingat, usaha lahiriah penting, tapi doa orang tua jauh lebih dahsyat dampaknya dalam jangka panjang.
Belajar Jadi Teladan
Rasulullah SAW bukan hanya Nabi, tapi juga orang tua yang sukses mendidik. Ia hadir sepenuh hati, mendidik dengan cinta, dan selalu mendoakan anak-anaknya.
Menjadi orang tua memang tidak mudah, tapi dengan meneladani Nabi Muhammad SAW, kita punya kompas yang jelas. Yang terpenting bukan menjadi sempurna, tapi terus belajar dan mendekatkan diri pada cara Rasul membesarkan generasi terbaik.
Editor : Jauhar Yohanis