Sejarah Kesultanan Aceh pada Masa Sultan Ali Mughayat Syah. Pondasi Kerajaan Islam yang Kuat
Jauhar Yohanis• Kamis, 19 Juni 2025 - 23:53 WIB
Photo
Kesultanan Aceh Darussalam merupakan salah satu kerajaan Islam paling berpengaruh di Nusantara pada abad ke-16 hingga 17. Kerajaan ini tidak hanya berperan sebagai kekuatan politik dan militer di wilayah barat Indonesia, tetapi juga sebagai pusat penyebaran Islam yang penting. Era fondasional dari kesultanan ini dimulai dengan kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah, seorang tokoh kunci yang membentuk arah dan karakter Kesultanan Aceh.
Latar Belakang dan Kenaikan Tahta
Ali Mughayat Syah (memerintah 1496–1530) merupakan raja pertama Kesultanan Aceh Darussalam. Ia mendirikan kerajaan ini dengan menggabungkan dua entitas politik lokal, yakni Kerajaan Lamuri dan Kerajaan Aceh, melalui ikatan kekeluargaan dan kekuatan militer. Menurut Taufik Abdullah dalam Sejarah Umat Islam di Asia Tenggara (2002), Ali Mughayat Syah berhasil mengonsolidasikan kekuasaan dan memproklamasikan berdirinya Kesultanan Aceh sekitar tahun 1496 Masehi.
Kebijakan Islamisasi dan Pendidikan
Salah satu langkah penting yang diambil Sultan Ali Mughayat Syah adalah menjadikan Islam sebagai fondasi utama kerajaan. Ia mendirikan lembaga-lembaga pendidikan Islam dan menjalin hubungan dengan pusat-pusat keilmuan di Timur Tengah, seperti Mekkah dan Mesir.
Menurut Anthony Reid dalam The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra (1979), kebijakan ini memperkuat posisi Aceh sebagai "Serambi Mekkah", pusat keilmuan Islam terkemuka di Asia Tenggara. Dakwah Islam pun diperluas ke daerah-daerah taklukan.
Ekspansi Wilayah dan Politik Luar Negeri
Pada masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah, Kesultanan Aceh melakukan ekspansi militer ke wilayah pesisir timur dan barat Sumatra. Beberapa wilayah seperti Daya (sekarang Aceh Barat Daya) dan Pedir (Pidie) berhasil dikuasai.
Ia juga mengusir kekuatan Portugis dari wilayah pesisir Aceh. Dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid III (Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 2008), disebutkan bahwa Mughayat Syah adalah sosok pertama di Sumatra yang secara aktif memerangi kehadiran Portugis yang ingin menguasai jalur perdagangan rempah-rempah.
Perdagangan dan Ekonomi
Kesultanan Aceh pada masa awal pemerintahannya juga berkembang sebagai pelabuhan dagang penting. Bandar Aceh menjadi tempat persinggahan saudagar dari Arab, Persia, Gujarat, hingga Tiongkok. Aceh mengekspor lada, kapur barus, dan hasil bumi lainnya, serta mengimpor barang mewah dan tekstil dari India dan Tiongkok.
Hal ini diperkuat oleh Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636), yang menuliskan bahwa kebijakan awal Mughayat Syah dalam membangun jaringan niaga internasional menjadi pondasi kemakmuran Aceh di masa mendatang.
Hubungan dengan Dunia Islam
Ali Mughayat Syah menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan Islam lainnya seperti Kesultanan Utsmaniyah (Turki Ottoman), Kesultanan Gujarat, dan Kesultanan Malaka sebelum jatuh ke tangan Portugis. Hubungan ini memperkuat legitimasi Aceh sebagai negara Islam berdaulat di mata dunia Muslim.
Menurut Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (2004), jaringan ulama dan pelajar Aceh yang menempuh pendidikan ke Timur Tengah mulai terbentuk sejak masa ini, meski berkembang pesat di masa-masa berikutnya.
Akhir Pemerintahan dan Warisan
Sultan Ali Mughayat Syah wafat pada tahun 1530 dan digantikan oleh putranya, Sultan Salahuddin. Warisan pemerintahan Ali Mughayat Syah tidak hanya berupa ekspansi wilayah dan stabilitas politik, tetapi juga berupa identitas Islam yang kuat yang terus melekat pada Kesultanan Aceh hingga keruntuhannya pada abad ke-20.
Kesimpulan
Kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah memainkan peran penting dalam meletakkan dasar-dasar Kesultanan Aceh sebagai kerajaan Islam yang kuat dan berdaulat. Melalui kebijakan ekspansi, Islamisasi, dan perdagangan internasional, Aceh tidak hanya menjadi kekuatan politik, tetapi juga pusat peradaban Islam yang disegani di Asia Tenggara.
Referensi
Reid, Anthony. The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra. Oxford University Press, 1979.
Lombard, Denys. Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Gramedia, 2007.
Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Kencana, 2004.
Abdullah, Taufik. Sejarah Umat Islam di Asia Tenggara. LP3ES, 2002.
Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia Jilid III. Balai Pustaka, 2008.