KEDIRI, JP Radar Nganjuk – Memasuki pengujung Ramadhan, suasana malam di Desa Kalirong, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, tiba-tiba berubah menjadi lautan cahaya. Tradisi pesta lampu hias yang digelar setiap tahun untuk menyambut Idul Fitri ini kembali memukau masyarakat, sekaligus menjadi pelipur rindu bagi para pemudik.
Sejauh mata memandang, setiap sudut gang dan jalan desa bersolek dengan aneka warna-warni lampu dekoratif. Menariknya, fenomena gemerlap ini bukan sekadar hiasan biasa.
Baca Juga: Panduan Lengkap Tata Cara Shalat Idulfitri
Melainkan hasil kreativitas dan "kompetisi sehat" antar-Rukun Tetangga (RT) yang berlomba-lomba mempercantik lingkungan mereka.
Naga Raksasa Curi Perhatian
Salah satu titik yang paling mencuri perhatian tahun ini berada di wilayah RT 03/RW 02. Warga sekitar yang memang dikenal ulet dan kreatif, tak tanggung-tanggung membangun replika naga berukuran raksasa.
Baca Juga: Simbol Amarah Musnah! Intip Kemeriahan Pawai Ogoh-Ogoh di Desa Bajulan Nganjuk
Bodi naga itu dibalut ribuan titik lampu LED. Saat malam tiba, sosok naga yang menyala terang di tengah kegelapan ini langsung diserbu menjadi objek foto favorit warga setempat maupun pelancong yang melintas.
Tak hanya itu, ada pula mainan kincir udara bercahaya yang sukses membuat anak-anak kecil kegirangan memandangnya. Kreativitas warga ternyata tak berhenti di fasilitas umum saja.
Di depan rumah masing-masing, warga juga kompak memasang ornamen lampu berbentuk kubah masjid. Sesekali, letusan kembang api memecah langit malam Kalirong, kian menambah kental atmosfer kemenangan jelang hari raya.
Baca Juga: Panduan Zakat Fitrah 2026: Segini Takaran Beras dan Nominal Uang yang Harus Dibayar
Berawal dari Oncor Kaleng Bekas
Di balik kemegahan tata cahaya kekinian, tradisi ini rupanya memiliki akar sejarah yang sangat kuat. Ketua RT 03 Romadhon menuturkan, semangat menghiasi desa jelang Lebaran ini adalah warisan leluhur yang sudah dijaga selama puluhan tahun.
"Tradisi lampu hias ini sudah turun-temurun. Bahkan sebelum listrik masuk ke desa kami, warga sudah terbiasa membuat hiasan. Dulu, kami menggunakan oncor (obor, Red) dari kaleng bekas yang berisi minyak tanah," kenang Romadhon.
Baca Juga: Ilmu Tanpa Sanad Bagaikan Pohon Tanpa Akar: Mengapa Kita Harus Selektif Memilih Guru?
Menurutnya, perkembangan zaman hanya mengubah media penerangannya saja. Namun, semangat kebersamaan dan gotong royong warga sama sekali tak luntur.
Jika dulu warga berjibaku menyalakan sumbu minyak satu per satu agar tak padam tertiup angin, kini mereka kompak bergotong-royong merangkai instalasi kabel yang rumit demi mempercantik lingkungan.
Baca Juga: Tanda-Tanda Lailatul Qadar: Benarkah Langit Menjadi Tenang Karena Turunnya Malaikat?
Daya Tarik Pemudik
Bagi para pemudik, kemeriahan "Negeri Seribu Lampu" ini seolah menjadi penanda bahwa mereka telah benar-benar sampai di rumah. Cahaya yang benderang bukan sekedar hiburan visual semata. Lebih dari itu, kilau lampu ini adalah simbol kehangatan Perayaan warga desa bagi saudara-saudara mereka yang baru tiba dari perantauan.
Selama libur Lebaran nanti, jalanan Desa Kalirong diprediksi akan terus menarik pengunjung. Mereka ingin menikmati sensasi berjalan-jalan di bawah terowongan cahaya dan mengabadikan momen di depan megahnya replika lampu karya tangan-tangan diaktifkan warga desa.
Editor : rekian