Bagi sebagian besar masyarakat Muslim di Nusantara, hari Rabu terakhir di bulan Safar bukan sekadar pergantian hari biasa. Momen ini dikenal luas sebagai Rebo Wekasan, sebuah waktu yang secara turun-temurun diyakini penuh dengan kewaspadaan spiritual. Di berbagai daerah, hari ini kerap disikapi dengan memperbanyak ibadah, bukan karena larut dalam ketakutan akan kesialan, melainkan sebagai bentuk kepasrahan dan ikhtiar batin untuk memohon perlindungan dari segala mara bahaya.
Secara literatur, tradisi ini sering dikaitkan dengan pandangan para ulama terdahulu. Salah satunya termaktub dalam kitab Kanzun Najah was Surur karya Syekh Abdul Hamid Quds, yang menyebutkan adanya urgensi untuk mempertebal benteng spiritual pada hari tersebut melalui amalan-amalan kebaikan.
Amalan Utama Menepis Musibah dalam Tradisi Rebo Wekasan
Untuk menyikapi hari yang dianggap sakral ini, para ulama menganjurkan beberapa amalan praktis yang dapat memperkuat kedekatan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Berikut adalah beberapa di antaranya yang lazim diamalkan oleh masyarakat:
- Sholat Sunnah Mutlak: Masyarakat sering mendirikannya sebanyak empat rakaat. Para ulama menegaskan bahwa niat sholat ini harus berupa sholat sunnah mutlak atau lidaf'il bala (menolak bala), bukan diniatkan khusus sebagai 'sholat Rebo Wekasan' yang mandiri agar tetap selaras dengan syariat. Pola pembacaan surahnya terbilang khas: setelah Al-Fatihah, dibaca Surah Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, serta Al-Falaq dan An-Nas masing-masing sekali di setiap rakaat.
- Menulis atau Membaca Ayat Salam: Kebiasaan unik lainnya adalah menulis tujuh ayat Al-Qur'an yang diawali dengan kata "Salamun". Beberapa di antaranya adalah kalimat keselamatan seperti “Salamun qaulam mir rabbir rahim” (QS. Yasin: 58) dan “Salamun 'ala Nuhin fil 'alamin” (QS. As-Saffat: 79). Ayat-ayat ini dibaca sebagai wasilah doa memohon kedamaian hidup.
- Memperbanyak Doa Tolak Bala: Selepas menunaikan ibadah sholat, umat Muslim dianjurkan memanjatkan doa-doa khusus yang berisi permohonan agar dijauhkan dari penyakit, bencana fisik, maupun kesusahan batin sepanjang tahun ke depan.
- Mempertebal Amal Jariah dan Istighfar: Tidak kalah penting, momentum ini diisi dengan memperbanyak istighfar untuk melebur dosa serta bersedekah kepada yang membutuhkan. Sedekah diyakini menjadi salah satu cara paling efektif untuk meredam bala bencana.
Pada akhirnya, Rebo Wekasan adalah ruang refleksi. Melalui rangkaian amalan ini, umat Islam diajak untuk mengingat kembali bahwa skenario keselamatan dan ketentuan hidup sepenuhnya berada di bawah kendali qadha dan qadar Allah SWT.
Editor : Miko