Ketampanan dan Kecantikan Tak Berarti Tanpa Kemampuan Menghargai Orang Lain

Dedi Nurhamsyah • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 14:24 WIB
Pentingnya memiliki tata krama dan menghargai sesama dalam kehidupan bermasyarakat.
Pentingnya memiliki tata krama dan menghargai sesama dalam kehidupan bermasyarakat.

“Arepa ayu lan bagusmu sundhul langit, yen ora bisa ngajeni wong liya, sepurane, ora ana regane.”

Ungkapan lawas Jawa ini terdengar lugas, bahkan tanpa basa-basi: setampan atau secantik apa pun parasmu hingga menyundul langit, jika kehilangan rasa hormat pada sesama, nilaimu nol.

Di era ketika citra diri bisa dipoles dalam hitungan detik lewat filter media sosial, petuah tersebut terasa seperti tamparan halus. Visual yang memikat memang mudah memancing decak kagum. Namun, bagaimana cara kita memperlakukan orang lainlah yang menentukan apakah kita pantas dihormati, atau sekadar numpang lewat di ingatan.

Ilusi di Balik Tampilan Luar

Kita terbiasa hidup dalam budaya yang mendewakan apa yang kasatmata. Sudut wajah paling simetris, pakaian bermerek, hingga deretan pencapaian kerap dijadikan tolok ukur tunggal keberhasilan seseorang.

Sayangnya, keelokan visual sering disalahartikan sebagai kematangan pribadi.

Seseorang bisa saja tampak menawan di depan kamera, tetapi mendadak kehilangan daya tariknya begitu meremehkan pramusaji, memotong obrolan kawan, atau memandang rendah mereka yang tak berpunya.

Daya pikat sejati tidak lahir dari tulang pipi yang sempurna. Ia memancar dari rasa aman dalam diri yang mewujud menjadi tutur kata santun dan kesediaan untuk mendengar.

Subasita: Etika yang Melampaui Sekadar Bahasa

Masyarakat Jawa mengenal laku subasita dan unggah-ungguh. Nilai ini kerap disempitkan sekadar kepandaian bertutur dalam bahasa krama kental.

Padahal maknanya jauh lebih dalam: seni membaca situasi dan kerendahan hati untuk menempatkan diri.

Subasita terbaca dari bahasa tubuh. Dari cara sorot mata menatap lawan bicara, cara duduk yang menghargai ruang bersama, hingga kepekaan menahan lisan agar tidak melukai harga diri orang lain.

Ini bukan formalitas feodal, melainkan kesadaran murni bahwa kita tidak pernah hidup sendirian. Sehebat apa pun kedudukan kita, ruang hidup ini selalu kita bagi dengan manusia lain yang martabatnya setara.

Ujian Karakter pada Hal-Hal Remeh

Karakter asli seseorang jarang terlihat saat ia berhadapan dengan atasannya atau orang yang ia segani.

Lihatlah caranya memperlakukan orang-orang yang tidak memberi keuntungan apa pun baginya: juru parkir di tepi jalan, petugas kebersihan di lorong kantor, atau sosok sederhana tanpa jabatan mentereng.

Di titik itulah adab diuji. Menghargai sesama tidak menuntut panggung megah atau deklarasi besar. Ia hidup dalam gestur kecil mengucap terima kasih dengan tulus, menyimak tanpa sibuk melirik ponsel, dan tidak merasa perlu menjadi orang paling pintar di meja diskusi.

Menjadi Pribadi yang Teduh Dikenang

Waktu punya cara yang pasti untuk mengikis fisik. Kerutan akan bertambah, ketampanan dan kecantikan perlahan memudar, dan standar estetika zaman akan terus berganti.

Namun, rekam jejak adab punya napas yang jauh lebih panjang.

Orang mungkin akan lupa seperti apa garis rahangmu atau seberapa wangi parfummu hari ini. Tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana perasaan mereka saat berada di dekatmu: apakah mereka merasa dihargai, atau justru dikecilkan?

Maka, berhentilah terobsesi hanya untuk menjadi sedap dipandang. Jauh lebih penting belajar menjadi pribadi yang teduh untuk ditemui dan beradab saat berinteraksi.
Editor : Miko
filosofi Jawa pitutur Jawa unggah-ungguh menghargai orang lain tata krama