Kabupaten Nganjuk memiliki komunitas yang bertujuan meningkatkan literasi masyarakat. Namanya adalah Nganjuk Book Party. Komunitas yang baru berdiri di tahun 2025 itu sering mengajak anggotanya untuk piknik dan membaca buku bersama.
KAREN WIBI-NGANJUK, JP Radar Nganjuk
Alun-Alun Nganjuk menjadi tempat favorit bagi masyarakat Kabupaten Nganjuk untuk berkumpul. Karena banyak kegiatan yang bisa dilakukan di tempat tersebut. Mulai dari bermain, belajar, atau hanya untuk bersantai.
Selain itu, banyak masyarakat yang datang ke Alun-Alun Nganjuk untuk berpiknik. Ya benar, mereka datang ke alun-alun dengan membawa banyak perlengkapan piknik pada umumnya. Seperti kotak makan, alas untuk duduk, dan banyak perlengkapan lainnya.
Hal itu seperti yang dilakukan oleh komunitas Nganjuk Book Party. Namun piknik yang dilakukan oleh anggota komunitas tersebut bukan seperti piknik pada umumnya. Karena mayoritas mereka menggunakan waktu dengan membaca buku bersama. “Kami sering berkumpul di Alun-Alun Nganjuk untuk membaca buku bersama,” terang Anggid Windu, 26, salah satu pendiri komunitas Nganjuk Book Party kepada wartawan koran ini.
Anggid menceritakan, komunitas Nganjuk Book Party baru berdiri pada November 2025. Komunitas yang diinisiasi oleh Anggid dkk itu bermula dari kerinduan untuk membuat sebuah komunitas pecinta buku di Nganjuk. “Dulu, waktu saya kuliah di Jember, ada komunitas serupa. Jadi saya tertarik untuk membuatnya juga di Nganjuk,” tambah perempuan yang berdomisili di Desa Gondang Kulon, Kecamatan Gondang itu.
Tak diduga ide tersebut disambut apik oleh banyak pihak. Hasilnya, di hari pertama berdiri, banyak pecinta buku yang bergabung dengan komunitas. Mereka lalu melakukan kegiatan piknik bersama di Alun-Alun Nganjuk.
Di Alun-Alun Nganjuk, kegiatan dibuka dengan membaca buku bersama. Nantinya setiap anggota wajib membawa satu buku. Kegiatan membaca buku bersama itu dilakukan sekitar 30 menit hingga 60 menit. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sharing bersama. Setiap anggota wajib menceritakan tentang buku yang baru saja dibaca. Hingga kegiatan ditutup dengan ramah tamah.
Lebih lanjut, menurut Anggid, dirinya tidak membatasi calon anggota komunitas yang ingin bergabung. Bahkan, saat ini, rentan usia anggota komunitas yang sudah bergabung sangat variatif. Mulai dari yang berusia belasan tahun hingga 40 tahun.
Ditambah, tidak ada batasan buku yang ingin dibawa di dalam komunitas. Mulai dari buku anak-anak, novel, hingga buku politik. “Makin bervariasi akan semakin bagus. Karena nanti semua anggota bisa mendapat sudut pandang baru terhadap banyak buku,” tandasnya.
Kini, meski baru berdiri, Anggid dkk memiliki target tinggi di komunitas Nganjuk Book Party. Yakni, agar masyarakat Kabupaten Nganjuk lebih familiar dengan buku. Dengan kondisi itu, menurut Anggid, tingkat literasi di Kota Angin akan terus meningkat. “Semoga upaya kecil ini bisa menjadi langkah untuk meningkatkan minat literasi di Nganjuk,” ujarnya. (tyo)
Editor : Karen Wibi