NGANJUK, radarnganjuk.jawapos.com– Di usia senja, Yulianto 68 tahun dan Yatilah 64 tahun warga Desa Jatigreges, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk tetap produktif. Pasangan suami istri atau pasutri ini menekuni usaha batik sejak 2012 lalu.
Uniknya, batik yang mereka ciptakan tidak biasa. Pasutri dengan brand "Jati Waras" ini banyak memasukkan unsur kelokalan Desa Jatigreges ke dalam setiap motif kainnya.
Baca Juga: Disperindag dan UPMS Dorong IKM Batik Nganjuk Naik Kelas
Usaha kecil itu dirintis di rumah sederhana milik mereka. Setiap hari, proses membatik hanya dikerjakan berdua tanpa karyawan.
“Dari dulu ya cuma berdua. Tidak pernah ada niat untuk punya karyawan,” ujar Yatilah saat ditemui di rumahnya, Jumat (29/8/2026). Pembuatan satu lembar batik butuh waktu berhari-hari.
Baca Juga: Outfit Berkain Ala Gen-Z, Lebih Baik Pakai Rok Batik Lilit atau Instant?
Prosesnya dimulai dari Yulianto yang menggambar motif dengan canting di atas kain. Setelah selesai, giliran Yatilah yang mewarnai kain tersebut.
Tahap terakhir adalah penguncian warna agar motif tidak luntur saat dicuci.“Seluruh prosesnya tidak bisa sebentar. Butuh waktu hingga berhari-hari,” tambahnya.
Baca Juga: Kenalkan Batik Jayastamba dan Brambang ke Pelanggan
Karena dikerjakan manual dan terbatas, hasil batik "Jati Waras" terasa eksklusif. Setiap helai kain punya ciri khas tersendiri.
Yang membuat batik mereka spesial adalah motifnya. Yulianto dan Yatilah sengaja mengangkat komoditas yang banyak ada di Desa Jatigreges.
Baca Juga: Detik-Detik Mencekam! Pesawat Batik Air Miring Saat Mendarat Akibat Cuaca Buruk
Ada motif guratan kayu jati lengkap dengan daun jatinya. Ada juga motif cabai merah yang menjadi ikon hasil bumi desa mereka.
“Motif kayu jati itu digambarkan dengan guratan-guratan pada kayu jati itu sendiri. Nanti juga ditambah dengan motif daun jati. Sedangkan cabai ya langsung gambar cabai,” jelas Yatilah.
Ternyata motif melokal itu disukai pasar. Pesanan untuk batik "Jati Waras" kini berdatangan dari berbagai kalangan.
Mulai dari masyarakat umum hingga instansi pemerintah daerah.Kisah Yulianto dan Yatilah menjadi bukti bahwa usia bukan penghalang untuk berkarya.
Dengan mengangkat kearifan lokal, batik dari Jatigreges Pace kini mulai dikenal luas.
Editor : rekian