NGANJUK, radarnganjuk.jawapos.com– Yulianto, 68, dan Yatilah, 64, pasutri perajin batik asal Desa Jatigreges, Kecamatan Pace, Nganjuk sering jadi rujukan warga yang ingin belajar membatik. Selain karena batiknya unik, keduanya dikenal tidak pelit ilmu.
“Ilmu itu dari Allah SWT, kami tidak mau pelit,” ujar Yulianto dan Yatilah kompak saat ditemui di rumah produksi "Jati Waras", Jumat (29/8/2026).
Baca Juga: Kisah Yulianto-Yatilah, Pasutri Lansia Perajin Batik "Jati Waras" dari Jatigreges Pace Nganjuk
Awal mula Yatilah mengenal batik justru tidak sengaja. Pada 2012, saat berkunjung ke Kota Madiun, ia mendapat pelajaran membatik dari salah satu saudaranya.
Tak lama berselang, Yatilah kembali mengikuti pelatihan membatik selama 5 hari yang digelar Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Nganjuk. Dari pelatihan itulah ia semakin mahir.
Baca Juga: Disperindag dan UPMS Dorong IKM Batik Nganjuk Naik Kelas
Ilmu yang didapat langsung ia tularkan ke Yulianto yang saat itu baru pensiun sebagai tenaga honorer. Keduanya kompak belajar dan menekuni usaha batik bersama.
Dua tahun berselang, tepatnya 2014, mereka resmi mendirikan brand batik bernama "Jati Waras". Nama itu diambil dari nama desa mereka, Jatigreges.
Baca Juga: Outfit Berkain Ala Gen-Z, Lebih Baik Pakai Rok Batik Lilit atau Instant?
“Desa ini namanya Jatigreges. Tapi kami tidak ingin greges, akhirnya namanya diganti jadi waras. Jadilah Jati Waras,” jelas Yulianto sambil tertawa.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak warga yang datang untuk belajar membatik ke rumah mereka. Namun Yulianto dan Yatilah tidak pernah menolak.
Baca Juga: Detik-Detik Mencekam! Pesawat Batik Air Miring Saat Mendarat Akibat Cuaca Buruk
Mereka dengan terbuka mengajari siapa saja yang ingin belajar, mulai dari teknik mencanting hingga pewarnaan.
“Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Saya tidak pernah takut tersaingi,” pungkas Yatilah.
Baca Juga: Apa Itu Crosswind? Angin Silang yang Sebabkan Pesawat Batik Air Nyaris Tergelincir di Bandara Soetta
Sikap keduanya membuat usaha batik "Jati Waras" tidak hanya dikenal karena motif kayu jati dan cabainya. Tapi juga karena semangat berbagi ilmu kepada generasi muda.
Editor : rekian