JP Radar Nganjuk - Burung decu (Saxicola caprata) adalah salah satu burung kecil berbakat dengan suara kicau yang tajam dan bervariasi. Tidak hanya menarik dari segi suara, burung ini juga menyimpan keunikan dalam hal habitat dan siklus musimannya.
Dikenal sebagai burung yang mudah beradaptasi, decu menjadi salah satu spesies yang tersebar luas di Indonesia dan Asia Tenggara. Habitat utama burung decu adalah daerah terbuka dan semi-terbuka.
Mereka kerap ditemukan di padang rumput, area pertanian, semak belukar, hingga kawasan hutan sekunder. Burung ini sangat menyukai tempat dengan vegetasi rendah, karena memudahkan mereka dalam mencari serangga yang menjadi makanan utamanya.
Selain di alam liar, burung decu juga cukup sering terlihat di area yang berdekatan dengan aktivitas manusia, seperti kebun, sawah, bahkan pinggir jalan pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa burung decu memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap lingkungan yang telah terpengaruh oleh aktivitas manusia.
Di daerah tropis seperti Indonesia, burung decu tergolong sebagai burung yang aktif sepanjang tahun.
Namun, meskipun tidak bermigrasi jauh, mereka memiliki periode berkembang biak yang khas, biasanya terjadi pada akhir musim hujan hingga awal musim kemarau, sekitar Maret hingga Juli.
Pada masa berkembang biak, burung jantan akan menjadi lebih vokal dan aktif dalam mempertahankan wilayahnya.
Mereka mengeluarkan kicauan yang nyaring untuk menarik perhatian burung betina dan juga untuk mengusir pesaing dari wilayah teritorialnya.
Inilah waktu terbaik untuk mengamati burung decu di alam liar karena perilakunya yang lebih ekspresif.
Sarang burung decu biasanya dibangun di tempat yang rendah, seperti di semak belukar, celah tanah, atau di bawah batu.
Bahan-bahan sarangnya terdiri dari rumput kering, daun, dan serat tanaman. Betina akan bertelur sekitar 3–4 butir yang dierami selama kurang lebih dua minggu.
Anak burung decu tumbuh dengan cepat. Dalam waktu sekitar dua minggu setelah menetas, anak-anaknya sudah mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang.
Selama masa ini, induk burung akan sangat aktif memberi makan dan melindungi anaknya dari predator.
Fleksibilitas habitat dan perilaku reproduksi yang cepat menjadikan burung decu mampu mempertahankan populasinya meskipun berada di lingkungan yang terus berubah.
Namun, aktivitas manusia yang semakin meluas tetap bisa menjadi ancaman jika tidak diimbangi dengan kesadaran lingkungan.
Dengan memahami habitat alami dan musim berkembang biaknya, kita bisa ikut berperan dalam menjaga kelestarian burung decu di alam.
Entah itu melalui penangkaran, pelestarian lahan terbuka, atau sekadar tidak mengganggu sarangnya di musim kawin — semua tindakan kecil ini sangat berarti untuk keberlanjutan spesies yang lincah dan berbakat ini
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira