JP Radar Nganjuk - Bayangkan hamparan tundra Siberia yang sunyi dan membeku.
Pada 23 Juni 1977, alat berat menggali lapisan tanah beku dan mengungkap rahasia yang telah tertidur selama puluhan ribu tahun.
Di dalam permafrost, tersembunyi tubuh mungil berbulu, seekor bayi mamut yang kemudian dinamai Dima.
Yang membuat Dima luar biasa adalah kondisinya yang hampir sempurna.
Bukan sekadar fosil, tubuhnya masih utuh: dari organ dalam, otot, hingga sisa susu di perutnya yang menunjukkan usianya saat itu hanya sekitar 6–8 bulan.
Seolah ia baru saja tertidur, bukan mati ribuan tahun lalu.
Penemuan Dima menjadi salah satu momen paling menyentuh dan penting dalam dunia paleontologi.
Bukan hanya karena data ilmiah yang bisa digali darinya, tapi karena ia memberi pandangan emosional tentang kehidupan Zaman Es tentang ikatan keluarga, pertumbuhan, dan kematian yang terlalu dini.
Begitu ditemukan, tantangan besar langsung muncul, bagaimana menjaga kondisi tubuh Dima di tengah musim panas Siberia.
Para peneliti pun bertindak cepat mendirikan tenda, menambahkan es, hingga akhirnya memindahkannya ke Leningrad.
Sayangnya, metode pengawetan yang digunakan waktu itu menyebabkan rambutnya rontok dan kulitnya berubah warna.
Meski begitu, nilai ilmiah dan historisnya tetap sangat besar.
Kini, Dima bukan hanya fosil. Ia menjadi penghubung antara zaman purba dan masa kini, sekaligus pengingat bahwa sejarah bumi bukan hanya tentang angka dan kerangka, tapi juga tentang kehidupan, emosi, dan kisah nyata.
Di museum tempat ia disimpan, Dima tak sekadar diam. Ia seolah menyampaikan pesan sebuah cerita dari dunia yang telah lama lenyap.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira