JP Radar Nganjuk - Setiap tahun, saat air bendungan Wlingi dan Lodoyo digelontorkan, warga di sepanjang aliran Sungai Brantas sudah siaga. Bukan karena banjir atau bencana, tapi karena datangnya momen yang paling dinanti: Pladu. Tradisi menangkap ikan ‘mabuk’ ini menjadi pesta rakyat sekaligus berkah bagi warga sekitar.
Air yang keluar dari bendungan bukan air biasa. Itu adalah air bercampur lumpur yang dilepaskan melalui proses flushing untuk membersihkan sedimen yang mengendap di dasar waduk. Akibatnya, aliran sungai berubah menjadi deras dan keruh. Tapi di balik itu, ada rezeki mengalir: ribuan ikan seperti nila, lele, dan patin mendadak lemas dan mudah ditangkap.
Warga dari berbagai desa pun tumplek blek di tepi sungai. Ada yang membawa jaring, serok, bahkan cukup tangan kosong. Mereka rela berpanas-panasan, berbasah-basahan, demi membawa pulang hasil tangkapan.
“Saya dapat satu ember penuh. Buat lauk seminggu,” ujar Marno, warga Ngadiluwih, sambil tertawa lebar. Ia mengaku tak pernah absen ikut Pladu sejak lima tahun terakhir.
Tradisi ini tak hanya soal ikan. Pladu juga jadi ajang berkumpulnya warga, bernostalgia, dan berbagi cerita. Anak-anak ikut bermain air, ibu-ibu menjerang hasil tangkapan di pinggir sungai, sementara para bapak sibuk berlomba-lomba mendapat tangkapan terbesar.
Meski demikian, petugas dari kepolisian dan BPBD mengingatkan warga untuk tetap berhati-hati. Debit air yang besar bisa membahayakan, terutama bagi anak-anak dan lansia. “Kami minta masyarakat tetap waspada. Jangan sampai euforia justru memicu bahaya,” imbau Kapolsek Wates, AKP Suyitno.
Tradisi Pladu membuktikan bahwa kearifan lokal bisa menjadi magnet sosial dan budaya. Tak hanya menyejahterakan, tapi juga mempererat ikatan antarwarga. Dan selama bendungan masih melakukan flushing, selama itu pula semangat Pladu akan terus hidup.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira