JP Radar Nganjuk – Balapan MotoGP di Sirkuit Aragon akhir pekan lalu menyuguhkan pertarungan sengit antara pembalap muda sensasional, Pedro Acosta, dan juara dunia bertahan, Francesco “Pecco” Bagnaia.
Meski gagal naik podium, Acosta tetap tampil impresif dan menunjukkan sikap sportif usai balapan.
Membela tim Red Bull GasGas Tech3 KTM, Acosta membuat penonton terpukau saat bersaing ketat dengan Bagnaia di lap-lap awal.
Keduanya terlibat duel intens dari tikungan ke tikungan. Namun, alih-alih terjadi benturan atau aksi agresif berlebihan, pertarungan mereka berlangsung bersih dan penuh saling hormat.
“Pecco itu pria sejati. Dia membalap dengan sangat bersih. Duel kami ketat tapi tetap fair. Saya benar-benar menikmati momen itu,” ujar Acosta kepada media, Minggu (8/6).
Pada satu momen krusial, Acosta mencoba menyalip Bagnaia di Tikungan 1. Namun, ia terlambat mengerem dan justru melebar, kehilangan momentum penting.
Bagnaia pun melaju mulus tanpa kehilangan posisi, dan terus mempertahankan keunggulan hingga finis di posisi ketiga.
Acosta mengakui keunggulan performa motor Ducati dibandingkan KTM saat ini.
“Kami kalah sekitar 0,2 detik per lap. Angkanya terlihat kecil, tapi dampaknya terasa besar saat balapan,” imbuh Acosta.
Meski demikian, pembalap berusia 20 tahun itu menilai progres timnya cukup positif dan menjadi bekal penting untuk seri-seri berikutnya.
Balapan di Aragon juga menjadi ajang pembuktian kedewasaan Acosta dalam mengelola emosi dan strategi.
Ia tidak hanya mengandalkan kecepatan, tapi juga menunjukkan ketenangan serta kecerdasan membaca situasi di lintasan.
“Saya tidak frustrasi. Justru saya senang karena bisa bertarung dengan salah satu rider terbaik dunia. Itu pengalaman berharga,” tambahnya.
Dengan hasil ini, Acosta finis di posisi keempat, tepat di belakang Bagnaia.
Meski belum naik podium, publik MotoGP mulai melihat Acosta sebagai penantang serius di musim-musim mendatang.
Sementara itu, Bagnaia tampil konsisten dan menjaga peluang untuk mempertahankan gelar juara dunianya.
Musim MotoGP 2025 masih panjang, namun duel seperti di Aragon menjadi bukti nyata bahwa generasi baru seperti Acosta siap menantang dominasi para senior.
Atmosfer kompetitif tetap terasa, namun dibalut dengan rasa saling hormat sebuah gambaran ideal untuk masa depan MotoGP yang lebih sportif dan menarik.
Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Polteknik Negeri Madiun (PNM)
Editor : Miko