Megawati Hangestri Pertiwi, salah satu atlet voli terbaik Indonesia, telah resmi bergabung dengan klub Manisa dari Turki. Kepindahannya ke liga voli Turki membawa antusiasme tersendiri di kalangan penggemar olahraga nasional. Namun, kepindahan ini juga memunculkan banyak pertanyaan, terutama terkait dengan kemungkinan Megawati tetap mengenakan hijab saat bertanding di kompetisi profesional Turki.
Kekhawatiran ini muncul karena sebagian masyarakat belum mengetahui regulasi yang berlaku di Turki maupun di tingkat internasional terkait penggunaan hijab dalam olahraga.
Selain itu, selama ini Turki dikenal sebagai negara sekuler. Pemerintah turki pernal melarang warganya mengenakan jilbab di tempat umum.
Sejarah Larangan Hijab di Turki
Untuk memahami duduk perkara ini, kita perlu melihat kembali sejarah terkait aturan hijab di Turki. Diketahui bahwa sejak tahun 1980-an, Turki pernah menerapkan larangan penggunaan hijab di ruang publik, termasuk dalam kegiatan olahraga. Namun, kebijakan ini sudah lama dicabut.
Pada bulan Desember 2012, Federasi Olahraga Turki secara resmi mencabut larangan penggunaan hijab dalam dunia olahraga. Keputusan ini memungkinkan para atlet Muslimah mengenakan hijab saat bertanding, serta memperbolehkan hijab ditampilkan dalam foto lisensi atlet. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam menjamin hak beragama bagi para atlet perempuan di negara tersebut.
Tidak hanya dalam dunia olahraga, kebijakan Turki yang lebih terbuka terhadap pemakaian hijab juga tampak dalam kehidupan publik. Sejak tahun 2013–2014, pemerintah Turki mencabut larangan penggunaan hijab di institusi publik, seperti sekolah, kampus, kantor pemerintah, hingga parlemen. Ini menjadi bagian dari reformasi besar-besaran dalam kebijakan negara yang lebih akomodatif terhadap simbol keagamaan.
Baca Juga: Jorge Martin: Setelah 4 Lap, Rasanya Seperti Balapan Lagi!
Bagaimana Regulasi Federasi Bola Voli Internasional?
Selain aturan nasional Turki, Federasi Bola Voli Internasional (FIVB) juga memiliki kebijakan yang mendukung kebebasan berbusana para atlet. Pada tahun 2012, FIVB secara resmi menghapus kewajiban penggunaan bikini dalam pertandingan voli pantai.
Aturan ini memberikan keleluasaan bagi atlet perempuan untuk menggunakan pakaian yang lebih tertutup, termasuk hijab, selama tidak membahayakan keselamatan dan tidak menghambat gerakan olahraga.
Salah satu contoh yang sering dijadikan rujukan adalah penampilan atlet Mesir, Doaa Elghobashy, dalam Olimpiade Rio 2016. Ia tampil mengenakan hijab dan pakaian panjang saat bertanding di cabang olahraga voli pantai, dan tidak mengalami kendala apa pun dari panitia maupun federasi internasional.
Hal serupa juga tampak dalam pertandingan internasional yang diikuti oleh tim voli putri Iran. Para pemainnya tampil mengenakan hijab dalam berbagai kejuaraan seperti AVC, dan keikutsertaan mereka tidak pernah bermasalah secara regulasi.
Regulasi Liga Voli Turki
Turki memiliki federasi voli nasional bernama Türkiye Voleybol Federasyonu (TVF) yang menjadi pemegang otoritas tertinggi dalam kompetisi voli di negara tersebut. TVF mengatur ketentuan mengenai seragam dan keselamatan pemain dalam beberapa dokumen resmi seperti “Sport Julisan,” “Visual Transfer Talimati,” dan “Danisma Talimati.”
Meskipun dalam dokumen tersebut tidak disebutkan secara eksplisit tentang hijab, namun regulasi TVF merujuk langsung pada standar internasional FIVB yang telah memperbolehkan hijab. Dengan demikian, selama hijab yang dikenakan tidak membahayakan keselamatan atlet atau lawan, penggunaannya diperbolehkan secara resmi.
Aturan-aturan ini berlaku di semua kasta liga, termasuk kasta tertinggi seperti Sultanlar Ligi atau divisi utama liga voli putri Turki. Maka dari itu, tidak ada alasan hukum atau regulatif yang melarang Megawati untuk bertanding sambil tetap mengenakan hijab.
Menjawab Kekhawatiran Publik
Kekhawatiran tentang apakah Megawati akan dipaksa melepas hijab saat bermain di Turki sebenarnya muncul lebih karena kurangnya informasi yang tersedia di publik. Dalam berbagai platform komentar media sosial, banyak netizen yang menanyakan hal tersebut.
Namun setelah menelusuri berbagai sumber resmi dan artikel terpercaya, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hambatan hukum bagi Megawati untuk tetap mengenakan hijab saat bertanding di liga profesional Turki.
Lebih dari sekadar persoalan busana, isu ini menyentuh aspek hak asasi manusia, terutama dalam hal kebebasan beragama. Dunia olahraga modern semakin inklusif dan mengakomodasi perbedaan latar belakang budaya serta keyakinan para atletnya.
Dengan perkembangan regulasi seperti ini, atlet Muslimah kini memiliki ruang yang lebih luas untuk mengekspresikan identitas mereka tanpa harus meninggalkan profesi olahraga yang mereka cintai.
Baca Juga: Usai Pernikahan, Karier Internasional Megawati Hangestri Melesat! Resmi Gabung di Manisa BBSK Turki
Dukungan dan Harapan untuk Megawati
Sebagai atlet profesional yang membawa nama baik Indonesia di kancah internasional, Megawati layak mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat. Dengan adanya kepastian hukum terkait hijab di Liga Voli Turki dan di tingkat internasional, kini para penggemar tidak perlu lagi merasa khawatir.
Yang terpenting adalah terus mendoakan dan memberi semangat kepada Megawati agar dapat menunjukkan performa terbaiknya di Turki, sekaligus menjadi representasi positif bagi perempuan Muslim yang aktif di dunia olahraga profesional.
Langkah Megawati tidak hanya menjadi perjalanan pribadi sebagai atlet, tetapi juga simbol keberanian dan konsistensi dalam mempertahankan prinsip di tengah kompetisi internasional. Ia menjadi inspirasi bahwa identitas keagamaan dan prestasi olahraga bisa berjalan berdampingan secara harmonis.
Editor : Jauhar Yohanis