JP RADAR NGANJUK-Belakangan ini, padel makin sering terdengar di telinga pecinta olahraga tanah air. Olahraga raket yang sempat asing ini kini mulai ramai digemari masyarakat Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali.
Tapi tahukah Anda bahwa padel memiliki sejarah yang panjang dan menarik, bahkan terkait erat dengan evolusi berbagai olahraga raket seperti tenis dan squash?
Dari Tenis Platform Hingga Padel Modern
Padel tak muncul begitu saja. Akar permainannya bisa ditelusuri hingga ke tenis platform, olahraga yang populer di Amerika Serikat sejak 1920-an. Tenis platform dimainkan di atas panggung yang ditinggikan dan bahkan memiliki sistem pemanas di bawah lapangannya untuk mencairkan salju saat musim dingin.
Seperti padel, tenis platform juga menggunakan raket dan lapangan yang dikelilingi jaring. Meski memiliki kemiripan, ukuran lapangan dan jenis bola yang digunakan jelas berbeda. Bola padel dibuat dari karet yang lebih kenyal, cocok untuk pantulan dari dinding.
Baca Juga: Luis Diaz Sepakat Gabung Bayern Munich, Tinggal Tunggu Lampu Hijau Liverpool
Terbentuk dari Halaman Rumah di Meksiko
Sejarah padel dimulai pada tahun 1969, ketika seorang pengusaha Meksiko bernama Enrique Corcuera memodifikasi sebidang tanah di rumahnya di Las Brisas, Acapulco. Karena keterbatasan ruang dan demi kenyamanan bermain, Corcuera membangun lapangan kecil berukuran 20 x 10 meter, dengan dinding di sekelilingnya agar bola tidak keluar dari area permainan.
Ia mengganti raket tenis dengan dayung dan menurunkan tinggi net, menciptakan permainan baru yang cepat, strategis, dan bisa dimainkan dalam ruang terbatas. Pengaruh squash juga terlihat jelas dari penggunaan dinding untuk reli panjang membuat padel jadi olahraga raket yang benar-benar berbeda.
Spanyol dan Argentina Jadi Pusat Pertumbuhan Padel Dunia
Olahraga ini mulai berkembang pesat saat Alfonso de Hohenlohe, teman Corcuera yang berasal dari Spanyol, mencoba padel saat berkunjung ke Meksiko pada tahun 1974. Tertarik dengan keseruan permainan ini, ia membangun dua lapangan padel pertama di Marbella Club, Spanyol.
Seiring waktu, olahraga ini menarik perhatian banyak tokoh, termasuk Manolo Santana, legenda tenis Spanyol pemegang empat gelar Grand Slam. Tak lama kemudian, klub-klub eksklusif di sepanjang Costa del Sol mulai membangun lapangan padel mereka sendiri dan menyelenggarakan turnamen lokal.
Baca Juga: Megawati Hijrah ke Turki! Simak Perbedaan Sistem Liga Voli Korea dan Turki di Sini
Pada tahun 1975, giliran Argentina yang jatuh cinta pada padel. Seorang jutawan bernama Julio Menditenguia membawa olahraga ini ke negaranya dan sambutan publik sangat luar biasa. Kini, Argentina memiliki lebih dari 10.000 lapangan dan sekitar 2 juta pemain padel berlisensi resmi.
Di Spanyol, padel bahkan menjadi olahraga terpopuler kedua setelah sepak bola, dengan lebih dari 20.000 lapangan dan 6 juta pemain aktif.
Baca Juga: Marc Marquez Desak Sachsenring Tingkatkan Keselamatan, Meski Kontrak Diperpanjang
Padel Mendunia: 30 Juta Pemain Amatir di 140 Negara
Secara global, padel kini menjadi salah satu olahraga dengan pertumbuhan tercepat. Pada tahun 2021, Federasi Internasional Padel (FIP) meluncurkan sirkuit Promises untuk kelompok usia muda. Kemudian, pada 2022, diluncurkan Premier Padel, sirkuit profesional resmi yang kini menjadi tur padel internasional terbesar.
Hingga pertengahan 2025, padel telah dimainkan di lebih dari 140 negara, dengan 87 federasi nasional yang terdaftar di FIP dan diperkirakan ada sekitar 30 juta pemain amatir di seluruh dunia.
Tren di Indonesia: Mulai Menjalar ke Berbagai Daerah
Di Indonesia, tren padel mulai terasa dalam dua tahun terakhir. Beberapa lapangan padel sudah dibuka untuk umum, terutama di kota-kota besar. Para selebritis, atlet, hingga pegiat olahraga mulai ramai mencoba olahraga ini dan membagikan pengalaman mereka di media sosial.
Meskipun di wilayah seperti Kediri fasilitas padel belum tersedia, tren ini menunjukkan potensi besar. Dengan lapangan yang tidak memerlukan lahan luas dan permainan yang cepat serta menyenangkan, padel cocok untuk menjadi alternatif olahraga rekreasi baru di tengah masyarakat.
Baca Juga: Persenga U-17 Ngebet Jadi Tuan Rumah 32 Besar Piala Soeratin Jatim 2025
Padel memang terbilang baru, tapi ia berdiri di atas pondasi yang kuat dari berbagai olahraga raket seperti tenis, squash, dan tenis platform. Dengan dinamika permainan yang seru, kemudahan beradaptasi, serta popularitas yang terus meningkat, padel bisa jadi jawaban bagi masyarakat yang ingin hidup aktif tanpa harus bermain olahraga yang terlalu teknis.
Dinda Lailli Ningtyas-Mahasiswa UIN SATU Tulungagung
Editor : Jauhar Yohanis