Suasana pengundian Arabika Coffee House Cup di Turki berubah riuh ketika hasil drawing mempertemukan klub-klub papan atas dalam satu grup. Grup A langsung dijuluki sebagai “grup neraka”. Bagaimana tidak, di dalamnya bercokol nama-nama besar seperti VakıfBank, Fenerbahçe, hingga Manisa BBSK. Publik bola voli Turki pun menebak bakal terjadi persaingan sengit sejak fase awal.
Namun, sorotan terbesar bukan sekadar persaingan klub elite. Yang lebih mencuri perhatian adalah pengakuan terbuka dari pelatih Fenerbahçe, Marcelo Abondanza. Dalam konferensi pers seusai pengundian, ia mengaku dirinya “gemetar” ketika mengetahui harus menghadapi Manisa BBSK. Ucapan itu memicu diskusi hangat di media olahraga Turki.
Abondanza bukanlah sosok pelatih kemarin sore. Namanya sudah malang melintang di berbagai kompetisi elite Eropa. Namun, pernyataannya kali ini membuat banyak orang terkejut. Apa yang sebenarnya membuat seorang pelatih berpengalaman bisa merasa waswas?
Jawabannya adalah satu nama: Megawati Hangestri Pertiwi.
Baca Juga: Megawati Disambut Hangat di Manisa: Barbecue, Keluarga Baru, dan Harapan Besar
Ketakutan Lama yang Kembali
Bagi Abondanza, Megawati bukan wajah asing. Musim lalu, ia masih menukangi Pink Spiders di Liga Voli Korea. Saat itu, Megawati menjadi mesin poin utama Daejeon Red Sparks, rival langsung tim asuhannya. Spike keras Megawati berkali-kali menyulitkan barisan pertahanan Pink Spiders.
“Jujur saja, ketika mendengar Manisa BBSK kini punya Megawati, saya langsung teringat betapa sulitnya menghadapi dia di Korea. Tahun lalu tim saya cukup menderita melawan serangannya,” ujar Abondanza, sembari tersenyum kecut.
Kini, ketakutan itu datang kembali. Bedanya, kali ini Abondanza membesut Fenerbahçe yang harus bertemu Megawati dalam turnamen Arabika Coffee House Cup.
Skuad Tak Ideal
Kondisi Fenerbahçe kian pelik. Klub asal Istanbul itu memastikan tidak bisa menurunkan skuad utama. Fokus utama mereka adalah Sultanlar Ligi, liga utama voli putri Turki, yang berlangsung bersamaan dengan turnamen pramusim ini. Akibatnya, Abondanza hanya membawa pemain muda dan pelapis.
“Ini keputusan sulit. Prioritas kami tetap di Sultanlar Ligi. Jadi kemungkinan besar kami tidak akan tampil dengan kekuatan penuh di turnamen ini. Itu sebabnya saya semakin khawatir,” katanya.
Di sisi lain, Manisa BBSK justru datang dengan semangat baru. Kedatangan Megawati membuat klub yang sebelumnya dianggap tim medioker kini naik pamor. Ekspektasi besar langsung ditaruh di pundak opposite hitter asal Indonesia itu.
Baca Juga: Siapa Setter Tandem Megawati di BBSK Manisa?
Megawati Jadi Magnet Baru
Keberhasilan Megawati bersama Red Sparks di Korea musim lalu menjadi alasan mengapa ia begitu diperhitungkan. Ia termasuk salah satu pemain asing dengan kontribusi tertinggi sepanjang musim. Statistik impresifnya membuat Manisa BBSK berani membawanya ke Turki.
Banyak pengamat menilai Megawati bisa menjadi magnet utama turnamen Arabika Coffee House Cup. Jika mampu cepat beradaptasi dengan gaya permainan Turki, bukan tidak mungkin ia bakal mengulang kesuksesan yang sama, bahkan lebih besar.
“Dia sudah membuktikan diri di Korea. Jika mampu konsisten di Turki, sulit bagi siapa pun untuk meremehkan Manisa BBSK,” ujar seorang analis bola voli di kanal olahraga nasional Turki.
Ajang Pembuktian
Turnamen Arabika Coffee House Cup sendiri dipandang sebagai ajang pembuktian. Klub-klub besar seperti VakıfBank dan Fenerbahçe ingin menjaga reputasi mereka. Sementara itu, tim baru seperti Manisa BBSK berusaha menunjukkan bahwa mereka mampu menantang dominasi raksasa.
Kini, perhatian publik tertuju pada laga-laga di Grup A. Apakah ketakutan Abondanza terbukti? Atau justru tim muda Fenerbahçe mampu memberi kejutan?
Satu hal yang pasti, nama Megawati Hangestri Pertiwi semakin berkibar di panggung internasional. Kehadirannya bukan hanya menambah warna baru bagi voli Turki, tetapi juga menjadi simbol bahwa talenta dari Asia Tenggara mampu menembus kancah Eropa.
Dan ketika seorang pelatih kelas dunia mengaku gemetar sebelum menghadapi timnya, itu menjadi pertanda bahwa Megawati kini benar-benar telah menjelma menjadi momok baru bagi klub-klub besar.
Editor : Jauhar Yohanis