MEDALI emas yang diraih Mutiara bukan sekadar prestasi. Bagi mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) semester 4 jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga itu, capaian tersebut merupakan buah dari kerja keras panjang yang penuh pengorbanan. “Makna medali emas dan rekor baru bagi saya itu hasil kerja keras selama satu tahun terakhir. Sebelum pertandingan saya sudah pelatnas setahun, ditambah latihan mandiri. Isinya ya nangis, capek, bahagia campur jadi satu,” ujar atlet berusia 21 tahun tersebut.
Meski begitu, dia meyakini proses berat akan terasa ringan jika dijalani dengan ikhlas dan hati gembira. Menurutnya, konsistensi latihan menjadi kunci utama hingga akhirnya mampu berdiri di podium juara.
Saat ini, Mutiara masih fokus menyelesaikan kuliah sembari menjaga intensitas latihan. Jika tidak sedang menjalani pemusatan latihan nasional (pelatnas), dia menyesuaikan jadwal latihan dengan aktivitas kampus. Namun ketika pelatnas berlangsung, latihan dijalani penuh dari Senin hingga Sabtu, bahkan dua kali sehari. “Membagi waktu kuliah dan latihan sudah biasa. Dari sekolah dulu juga pagi belajar, sore latihan. Jadi sudah terbiasa,” katanya.
Di balik prestasi tersebut, ada pengorbanan yang tidak ringan. Salah satunya harus jauh dari keluarga saat pelatnas serta waktu remaja yang banyak tersita untuk latihan. “Kadang merasa masa remaja seperti tidak punya kenangan karena hampir selalu latihan. Tapi itu pilihan dan konsekuensi atlet,” ungkapnya.
Perempuan asli Kecamatan Ngronggot itu juga memiliki pandangan tersendiri soal keterbatasan. Dia menilai disabilitas bukan penghalang mutlak, melainkan batas yang sering kali tercipta dari pikiran sendiri. “Keterbatasan itu sebenarnya limit yang kita kira sendiri. Padahal kita bisa lebih kuat dari yang kita bayangkan,” tegasnya.
Untuk target ke depan, Mutiara memilih realistis. Dia ingin terus meningkatkan capaian dari waktu ke waktu. Namun ia juga menyimpan mimpi besar bisa tampil di Paralimpiade Los Angeles 2028. “Targetnya tidak muluk-muluk, lebih baik dari kemarin saja. Tapi kalau bisa, tentu ingin tembus Paralimpic LA 2028,” pungkasnya. (nov/wib)
Editor : Karen Wibi