Melihat Komunitas hydratedclub di Nganjuk. Jadi Wadah Pecinta Balap Lari di Kota Angin
Karen Wibi• Senin, 30 Maret 2026 | 19:08 WIB
Komunitas hydratedclub yang rutin menggelar kegiatan balap lari di Kabupaten Nganjuk
“Siap…sedia…mulai…,” teriak salah seorang pria sembari mengibarkan bendera dengan motif hitam putih. Selepas teriakan mulai, terlihat dua pemuda yang beradu kecepatan. Bukan dengan mengendarai sepeda motor. Melainkan dengan cara berlari. Ya, mereka berlari. Puluhan pemuda yang sedang memenuhi jalan itu sedang melakukan balap lari.
Tentu kegiatan balap lari tersebut masih awam bagi masyarakat di Kota Angin. Terlebih, malam itu, kegiatan balap lari tidak dilakukan di arena balapan. Melainkan di jalan raya. Yakni di Jalan Basuki Rahmat. Tepat di depan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk.
Namun ternyata balap lari itu tidak dilakukan secara ujug-ujug. Melainkan sudah rutin dilakukan. Itu seperti yang dikatakan oleh Pomas Nanda Pratama, salah satu penggagas kegiatan balap lari 100 meter di Kabupaten Nganjuk. “Balap lari 100 meter itu mulanya dari ide teman-teman di komunitas hydrateclub,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Komunitas hydrateclub itu sendiri mulai berdiri sejak Februari 2025 lalu. Tujuan utamanya adalah untuk mengakomodir pecinta olahraga lari di Kota Angin. Singkat cerita, setelah beberapa bulan berdiri, anggota di komunitas tersebut terus bertambah. Hingga muncullah sebuah ide untuk membuat kegiatan balap lari. Namun bukan di arena balap lari pada umumnya. Melainkan di tempat yang tidak dianggap umum oleh seorang pelari. Mulai dari jalan raya hingga tempat parkir Stadion Anjuk Ladang. “Awalnya tidak menyangka bisa ke arah situ. Karena mulanya kami hanya ingin membuat masyarakat Nganjuk itu sehat fisik dan mentalnya,” imbuhnya.
Ide balap lari 100 meter itu disambut positif oleh anggota komunitas. Mereka lalu mulai mengadakan kegiatan lari. Tempatnya mulai di tempat parkir Stadion Anjuk Ladang, Jalan Ahmad Yani, hingga terakhir di Jalan Basuki Rahmat.
Kegiatan balap lari itu selalu dilakukan di malam hari. Dengan tujuan agar kegiatan tidak mengganggu pengguna jalan umum. Ditambah, menurut Pomas, mayoritas anggota komunitas adalah seorang pekerja. Mereka masih bekerja ketika pagi hingga sore hari. Ditambah kegiatan lari itu tidak dilakukan dengan konsep resmi. Melainkan dengan konsep ala kadarnya. Seluruh pelari melakukan balapan tanpa alas kaki. “Kegiatan terakhir yaitu saat malam takbir. Kegiatan balap lari diadakan di depan Kantor Pemkab Nganjuk,” imbuhnya.
Tak disangka jumlah peserta balap lari 100 meter cukup banyak. Tidak hanya dari anggota komunitas. Melainkan juga dari pelari di Kabupaten Nganjuk yang penasaran untuk mencoba. “Tujuan ada kegiatan lari itu ya untuk mengukur perkembangan diri dan jadi sarana motivasi anggota. Namun akhirnya kegiatan itu dapat menjadi promosi untuk mengenalkan olahraga lari bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (tyo)