Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Menikmati Mudik Lebaran dari Nganjuk ke Sumatera (1): Terpaksa Kehilangan Diskon Tarif Tol demi Hindari Kemacetan

rekian • Rabu, 18 Maret 2026 | 05:47 WIB

RAMAI LANCAR: Kendaraan pemudik mengantre di Pelabuhan Merak.
RAMAI LANCAR: Kendaraan pemudik mengantre di Pelabuhan Merak.

JP Radar Nganjuk- Wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk Rekian mengajak keluarganya mudik ke Sumatera. Dia harus menempuh perjalanan sejauh 1.581 kilometer via tol dari Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur menuju Lebong, Provinsi Bengkulu.

Jarak tersebut butuh perjuangan ekstra. Mulai dari mobil yang prima, kondisi sopir yang harus on fire, dan isi dompet yang tak boleh kosong. Mulai hari ini, Jawa Pos Radar Nganjuk akan menampilkan catatan perjalanan Rekian mudik ke Bengkulu dan balik ke Kota Angin. 

Sabtu dinihari (14/3), saya bersama keluarga mulai start dari Desa/Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Target pertama adalah Jogjakarta. Berkejaran dengan makan sahur, saya memulai perjalanan pukul 01.00 WIB.

Saat sebagian besar warga Desa/Kecamatan Ngronggot terlelap, mesin kendaraan mulai menderu. Keputusan berangkat dini hari adalah strategi klasik untuk menghindari kepadatan. 

Benar saja, aspal tol Trans-Jawa membentang lengang. Meski masih banyak truk angkutan barang beroperasi, arus lalu lintas di sepanjang perjalanan dari Nganjuk menuju arah Barat tergolong sangat lancar.

Anomali justru terlihat pada jalur sebaliknya. Arus menuju Surabaya tampak jauh lebih ramai, ada kemungkinan didominasi oleh pergerakan logistik atau pemudik lokal Jawa Timur.

Waktu tempuh perjalanan 191 kilometer itu ditempuh dalam waktu 2,5 jam. Saya tiba di kawasan Prambanan sekitar pukul 04.30 WIB, sesaat setelah menyelesaikan aktivitas sahur di jalan.

Ada sedikit "pahit" yang harus ditelan dalam perjalanan pembuka ini. Saya harus merogoh kocek sebesar Rp 293.000 untuk biaya tol dari Nganjuk hingga keluar di gerbang tol yang mengarah ke Prambanan/Jogjakarta.

Saya melewatkan diskon tarif tol sebesar 30 persen yang baru akan diberlakukan pada Minggu (15/3) mulai pukul 05.00. Selisih keberangkatan yang hanya 24 jam lebih awal membuat tarif masih berlaku normal 100%. Sebuah risiko dari memilih waktu berangkat yang lebih awal demi menghindari puncak kemacetan.

Memasuki wilayah Jogjakarta via Prambanan, kekhawatiran akan kemacetan khas kota wisata ini tidak terbukti. Meski mulai terlihat aktivitas masyarakat di pagi hari, lalu lintas tetap ramai lancar. Tidak ada penumpukan kendaraan yang berarti di titik-titik krusial menuju pusat kota.

Perjalanan masih panjang. Masih ada 1.300-an kilometer lagi membentang menuju Lebong, Bengkulu di Pulau Sumatera. Menyeberangi selat dan membelah Bukit Barisan akan menjadi tantangan berikutnya. Namun setidaknya aspal Trans Jawa cukup bersahabat bagi mereka yang mencuri start lebih awal.

Berkaca dari tahun sebelumnya, kondisi kendaraan yang digunakan untuk melintas tol Trans Jawa dan Trans Sumatera harus benar-benar fit. Satu minggu sebelum keberangkatan kendaraan wajib masuk ke bengkel resmi.

Mengapa seminggu? Ini memberikan jeda waktu jika ada suku cadang yang harus dipesan (indent) atau penyetelan ulang jika ada yang kurang pas pasca-servis.

Mesin yang fit bukan sekadar tentang kenyamanan, tapi tentang keselamatan nyawa. Jangan memaksakan mesin bekerja melampaui batas tanpa pengecekan profesional. Pastikan seluruh administrasi kendaraan (STNK) dan saldo elektronik (e-toll) mencukupi agar tidak menghambat arus di gerbang tol. 

Editor : rekian
#nganjuk #radar nganjuk #jawa timur #ngronggot #provinsi bengkulu #arus mudik #lebong