Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Menikmati Mudik Lebaran dari Nganjuk ke Sumatera (habis): 48 Jam Perjalanan dari Ngronggot Nganjuk ke Lebong

rekian • Jumat, 20 Maret 2026 | 06:45 WIB

SAMPAI TUJUAN: Rekian dan keluarga foto bersama setelah tiba di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.
SAMPAI TUJUAN: Rekian dan keluarga foto bersama setelah tiba di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.

JP Radar Nganjuk- Menyeberangi Selat Sunda bukan sekadar berpindah pulau, melainkan berpindah realitas infrastruktur. Jika Trans Jawa memanjakan pemudik dengan aspal mulus dan simulasi contra flow yang rapi, Trans Sumatera justru menyambut dengan deretan barrier perbaikan jalan dan tantangan suspensi yang menguji nyali. Perjalanan 1.581 kilometer dari Nganjuk menuju Lebong ditempuh selama 48 jam itu kini memasuki fase pembuktian. Sejauh mana ketangguhan kendaraan menghadapi jalur nasional yang kian tak menentu.

Memasuki hari kedua perjalanan, perbedaan mencolok mulai terasa saat roda kendaraan menyentuh aspal Sumatera. Di Trans Jawa, persiapan menyambut lonjakan pemudik terlihat sangat matang. Meski arus dari arah Jakarta (Barat) menuju Nganjuk (Timur) masih tampak normal, perangkat rekayasa lalu lintas seperti pembatas contra flow sudah terpasang rapi, siaga menyambut gelombang manusia, meski saat ini hanya mobil patroli polisi yang tampak melintas.

Namun, pemandangan kontras tersaji selepas Pelabuhan Bakauheni. Akses tol Trans Sumatera tak sepadat di Jawa, namun kualitasnya menuntut kewaspadaan ekstra. Proyek perbaikan jalan justru masih berlangsung di tengah masa mudik. Menjadi sebuah pemandangan yang terasa ironis mengingat jalur ini adalah nadi utama para pemudik.

Di fase ini, biaya operasional kembali terkuras untuk retribusi jalan bebas hambatan. Tarif Tol Trans-Jawa dari Prambanan sampai Merak sebesar Rp 813 ribu. Sedangkan tarif Tol Trans-Sumatera dari Bakauheni sampai Prabumulih sebesar Rp 488,5 ribu sudah kena diskon. Jika ditotal maka jumlahnya menjadi Rp 1,3 juta. 

Meski pada hari kedua ini saya sudah mulai menikmati potongan tarif tol, rasanya kegembiraan itu sedikit hambar. Pengurangan biaya tidak berbanding lurus dengan kenyamanan jalan yang masih ditemui jalan berlubang dan gelombang.

Tantangan sesungguhnya muncul karena jalan tol belum bisa menembus Provinsi Bengkulu. Karena itu, perjalanan harus berlanjut via jalan nasional. Rute yang saya ambil melalui Lahat menuju Kepahiang menunjukkan kondisi infrastruktur yang memprihatinkan.

Akses jalan yang banyak dilalui truk bermuatan besar itu membuat infrastrukturnya kacau balau. Selain lubang yang dalam, jalannya juga menanjak. Aspal bergelombang menjadi tantangan yang sangat berisiko bagi kendaraan yang tidak dalam kondisi prima.

Bagi para pemudik yang hendak menuju Lebong atau Curup, sangat disarankan untuk mempertimbangkan kembali jalur Lahat-Kepahiang. Jika kendaraan tidak cukup tangguh. Ada dua opsi rute yang bisa diambil selepas Prabumulih.

Opsi pertama adalah dari Prabumulih ke Muara Enim lewat Pali dan masuk ke Lubuk Linggau. Dari Linggau, bisa langsung masuk ke Curup dan tiba di Lebong. Jalur Pali sering menjadi pilihan untuk memangkas waktu. Catatannya, kondisi jalan tetap harus dipantau.

Opsi lainnya adalah dari Tol Prabumulih ke Muara Enim dan langsung menuju ke Lubuk Linggau. Keluar dari Sumatera Selatan via Linggau menuju Curup (Bengkulu), lalu diteruskan ke Lebong.

Perjalanan ini membuktikan bahwa saldo e-toll yang cukup dan fisik yang bugar saja tidak cukup. Pemahaman akan navigasi rute alternatif adalah kunci agar tidak terjebak dalam kerusakan jalan yang bisa merusak komponen kaki-kaki kendaraan di tengah aspal Palembang-Bengkulu.(tyo)

Editor : rekian
#mudik #nganjuk #mudik lebaran #pemudik #jawa timur #bengkulu #trans jawa #trans sumatera #lebong