Ada satu julukan yang sampai sekarang masih melekat pada Honda Supra: “Supra Bapak”.
Sebutan ini biasanya ditujukan kepada Supra generasi lama, terutama Astrea Supra, Supra X 100 cc, hingga Supra Fit yang ramai digunakan pada akhir 1990-an sampai 2000-an.
Tentu, Honda tidak pernah secara resmi memberikan julukan tersebut. Istilah “Supra Bapak” lebih lahir dari kebiasaan masyarakat melihat siapa yang paling sering menggunakan motor ini.
Lalu, kenapa bisa sampai muncul sebutan seperti itu?
Identik dengan Motor Bapak-Bapak
Pada masa kejayaannya, Supra memang sangat mudah ditemukan digunakan oleh pengendara usia dewasa.
Motor ini dipakai untuk berbagai keperluan. Mulai berangkat kerja, pergi ke pasar, mengantar anak sekolah, sampai aktivitas harian lainnya.
Karakter Supra yang sederhana membuatnya terasa cocok untuk kebutuhan tersebut.
Tidak banyak gaya, tetapi bisa diandalkan.
Dari sinilah citra “motor bapak-bapak” perlahan terbentuk.
Mesin Kecil, Tapi Terkenal Bandel
Salah satu alasan Supra begitu dekat dengan masyarakat adalah mesinnya.
Supra generasi awal menggunakan mesin sekitar 100 cc. Kapasitasnya memang tidak besar, tetapi terkenal irit dan relatif mudah dirawat.
Bagi pengguna yang membutuhkan kendaraan untuk bekerja setiap hari, karakter seperti ini justru menjadi nilai jual utama.
Motor tidak harus kencang. Yang penting mudah dihidupkan, konsumsi bahan bakarnya hemat, dan ketika ada masalah tidak sulit mencari bengkel atau suku cadang.
Karena itu, tidak mengherankan jika masih ada Supra tua yang tetap digunakan hingga sekarang.
Desainnya Kalem, Bukan Motor Anak Muda
Kalau melihat motor pada era yang sama, karakter desain Supra juga ikut membentuk julukannya.
Motor bebek seperti Supra cenderung mempunyai tampilan yang sederhana dan tidak terlalu agresif.
Sementara beberapa kompetitornya, seperti Yamaha Jupiter, mulai menawarkan desain yang lebih tajam dan sporty untuk menarik konsumen muda.
Supra justru mengambil jalur yang berbeda.
Desainnya lebih netral dan fungsional. Posisi berkendaranya juga mendukung penggunaan sehari-hari.
Bagi anak muda zaman sekarang, tampilan seperti itu mungkin dianggap terlalu “bapak-bapak”.
Namun, justru itulah yang membuat identitas Supra semakin kuat.
Ada Juga Suara “Khas” Supra Tua
Selain soal pengendaranya, ada satu hal yang sering menjadi bahan candaan pemilik Supra lawas: suara bodinya.
Setelah digunakan bertahun-tahun, beberapa bagian plastik bodi bisa mengalami perubahan karena usia, getaran, maupun dudukan yang mulai longgar.
Akibatnya, muncul suara getaran atau kletek-kletek ketika motor berjalan.
Hal yang dulu mungkin dianggap mengganggu justru sekarang menjadi bagian dari nostalgia.
Di media sosial, suara bodi motor tua seperti ini sering dijadikan bahan candaan untuk menggambarkan motor bebek lawas yang sudah menemani pemiliknya selama bertahun-tahun.
“Supra Bapak” Kini Jadi Sebutan Nostalgia
Menariknya, istilah “Supra Bapak” sekarang tidak selalu bernada mengejek.
Di kalangan penggemar motor lawas, julukan tersebut justru sering digunakan sebagai bentuk nostalgia.
Supra dianggap mewakili masa ketika motor bebek menjadi kendaraan utama banyak keluarga Indonesia.
Motor tersebut mungkin tidak menawarkan teknologi secanggih motor modern. Desainnya juga tidak semenarik motor sport.
Namun, ada satu hal yang membuatnya sulit dilupakan: reputasinya sebagai motor yang sederhana, irit, dan tahan lama.
Dari Motor Bapak-Bapak Jadi Motor Ikonik
Pada akhirnya, “Supra Bapak” bukan sekadar soal siapa yang mengendarainya.
Julukan tersebut terbentuk dari kombinasi antara pengguna, desain, karakter mesin, serta pengalaman masyarakat selama bertahun-tahun.
Kini, ketika motor bebek semakin tersisih oleh skuter matik, Supra generasi lama justru mendapatkan tempat tersendiri di kalangan pencinta otomotif dan pemburu nostalgia.
Dulu mungkin dianggap motor bapak-bapak.
Sekarang, Supra lawas justru menjadi pengingat sebuah era ketika motor bebek adalah raja jalanan Indonesia.
Editor : Miko