Ada masa ketika motor bebek menjadi kendaraan yang sangat dekat dengan kehidupan anak muda Indonesia. Salah satu yang cukup mudah dikenali adalah Suzuki Smash.
Motor ini pertama kali hadir di Indonesia pada 2002 dengan slogan yang begitu melekat, “Si Gesit Irit”. Namanya kemudian ikut menghiasi jalanan Indonesia pada era ketika motor bebek masih menjadi pilihan utama untuk aktivitas sehari-hari.
Kini situasinya sudah berbeda. Motor matik mendominasi jalanan, sementara motor bebek semakin jarang menjadi pilihan utama.
Namun, Suzuki Smash justru memiliki daya tarik lain. Bagi sebagian orang, motor ini bukan sekadar kendaraan lawas, melainkan bagian dari nostalgia sekaligus pilihan yang cukup unik untuk digunakan sekarang.
Nostalgia Anak Muda Era 2000-an
Bagi mereka yang tumbuh pada awal 2000-an, Suzuki Smash punya kenangan tersendiri.
Desainnya yang ramping dengan garis bodi cukup tajam membuat Smash terlihat lebih sporty dibandingkan sejumlah motor bebek pada zamannya.
Tidak sedikit pemilik yang kemudian memodifikasinya. Gaya street racing, thailook, sampai restorasi dengan tampilan standar pabrik pernah menjadi pilihan para pemilik Smash.
Menariknya, tren tersebut masih bisa ditemukan hingga sekarang.
Motor yang dulu dianggap biasa saja justru mulai dicari kembali oleh orang-orang yang ingin menghidupkan suasana otomotif era 2000-an.
Kenapa Sekarang Terlihat Anti-Mainstream?
Coba lihat kondisi jalan saat ini.
Motor matik dengan desain modern jauh lebih mudah ditemukan dibandingkan motor bebek. Karena itu, mengendarai Smash lawas justru membuatnya terlihat berbeda.
Bukan karena ingin terlihat mewah, tetapi karena pilihannya memang tidak biasa.
Motor bebek seperti Smash juga menawarkan karakter berkendara yang berbeda dari skuter matik. Bobotnya relatif ringan dan dimensinya kompak sehingga mudah diajak bermanuver di jalan perkotaan.
Untuk penggunaan harian, karakter seperti ini masih relevan.
“Si Gesit Irit” Bukan Sekadar Slogan
Nama Smash sejak awal memang tidak bisa dilepaskan dari urusan efisiensi.
Mesinnya berkapasitas sekitar 110 cc, dengan beberapa generasi dan varian yang kemudian berkembang hingga menggunakan teknologi injeksi.
Karakter mesinnya juga dikenal responsif pada putaran bawah. Dipadukan dengan bobot motor yang ringan, Smash terasa cukup lincah ketika digunakan melewati kepadatan lalu lintas.
Itulah yang membuat slogan “Si Gesit Irit” cukup mudah diingat.
Bukan motor dengan tenaga besar, tetapi memang dibuat untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari.
Ringan dan Sederhana Jadi Kelebihan
Salah satu daya tarik motor bebek lawas adalah kesederhanaannya.
Smash generasi tertentu memiliki bobot sekitar 94 kilogram, sehingga terasa ringan ketika digunakan maupun saat harus memindahkan motor dalam kondisi mesin mati.
Konstruksinya juga relatif sederhana dibandingkan motor modern yang sudah dipenuhi berbagai sistem elektronik.
Bagi sebagian pengguna, kesederhanaan seperti ini justru menjadi keuntungan.
Perawatan lebih mudah dipahami dan banyak bengkel umum sudah akrab dengan karakter motor bebek Suzuki.
Cocok untuk Harian, Menarik untuk Modifikasi
Suzuki Smash juga memiliki dua sisi yang cukup menarik.
Di satu sisi, motor ini bisa digunakan sebagai kendaraan harian dengan biaya operasional yang relatif terjangkau.
Di sisi lain, bentuknya cukup mudah dijadikan bahan modifikasi.
Pemilik bisa memilih mempertahankan tampilan standar untuk mendapatkan nuansa nostalgia, atau mengubahnya menjadi motor dengan gaya yang lebih personal.
Bahkan, mempertahankan kondisi standar dengan komponen orisinal kini juga menjadi pilihan tersendiri bagi penggemar motor lawas.
Masih Layak Dipilih?
Jawabannya kembali pada kebutuhan.
Jika yang dicari adalah motor dengan teknologi terbaru, fitur modern, dan kenyamanan seperti skuter matik masa kini, tentu Suzuki Smash bukan pilihan yang paling masuk akal.
Tetapi jika kriterianya adalah motor ringan, sederhana, irit, mudah dirawat, dan punya karakter berbeda, Smash masih menarik untuk dipertimbangkan.
Apalagi harga unit bekasnya umumnya lebih bersahabat dibandingkan motor baru.
Yang perlu diperhatikan justru kondisi unit. Motor tua tidak cukup dinilai dari harga jualnya. Kondisi mesin, kelistrikan, rangka, kaki-kaki, dokumen, hingga ketersediaan komponen harus diperiksa sebelum membeli.
Dari Idola Anak 2000-an Jadi Motor Nostalgia
Suzuki Smash mungkin sudah tidak menjadi pemain utama di pasar motor harian seperti dulu.
Namun, nama “Si Gesit Irit” masih punya tempat di ingatan banyak orang.
Dua puluh tahun lebih setelah kemunculannya, Smash justru menemukan identitas baru. Bukan lagi sekadar motor bebek yang digunakan untuk berangkat sekolah atau bekerja, tetapi kendaraan nostalgia yang bisa menjadi pilihan anti-mainstream di tengah dominasi motor matik.
Dan mungkin, di situlah daya tarik Smash sekarang.
Tidak perlu menjadi motor paling baru untuk tetap punya cerita.
Editor : Miko