JAKARTA – Penggemar motor bebek sport mungkin masih ingat dengan Yamaha Tiara S 120. Motor 2-tak berpenampilan ramping tersebut pernah menjadi salah satu model Yamaha yang cukup mencuri perhatian di Indonesia pada awal 2000-an.
Kini, situasinya berbeda.
Ketika nama seperti Honda Sonic 150R dan Suzuki Satria F150 masih identik dengan segmen ayam jago atau ayago, Yamaha justru tidak memiliki produk sejenis di pasar Indonesia.
Pertanyaannya kemudian muncul: kenapa Yamaha tidak membuat ayago modern 150 cc untuk menantang keduanya?
Jawabannya kemungkinan bukan karena Yamaha tidak mampu membuatnya. Sebagai produsen sepeda motor global, secara teknis Yamaha tentu memiliki kemampuan untuk mengembangkan motor dengan karakter tersebut.
Persoalannya lebih berkaitan dengan strategi produk dan seberapa menarik pasar ayago saat ini.
Yamaha Sebenarnya Pernah Punya Ayago
Membicarakan Yamaha dan ayago bukanlah sesuatu yang baru.
Jauh sebelum era Satria F150 dan Sonic 150R seperti sekarang, Yamaha pernah memiliki model yang punya karakter serupa.
Salah satunya adalah Yamaha Champ, yang hadir pada era 1990-an.
Kemudian ada Yamaha Tiara S 120 yang masuk ke Indonesia melalui jalur CBU dari Malaysia. Berbeda dengan bebek Yamaha pada umumnya saat itu, Tiara S menawarkan desain yang sangat ramping dengan karakter sporty yang kuat.
Mesinnya juga menjadi daya tarik tersendiri.
Tiara S menggunakan mesin 120 cc dua langkah. Karakter mesin 2-tak membuat motor tersebut memiliki respons yang berbeda dibandingkan motor bebek 4-tak yang lebih umum ditemui.
Namun, Tiara S bukanlah produk yang diposisikan sebagai motor massal murah.
Statusnya sebagai motor CBU dan harga yang relatif tinggi membuat keberadaannya lebih terbatas. Kini, unit yang masih bertahan justru semakin menarik perhatian penggemar motor lawas dan kolektor.
Yamaha Sudah Punya MX King
Setelah era Tiara berlalu, Yamaha tetap mempunyai motor bebek dengan karakter sporty melalui keluarga Jupiter MX, yang kemudian berkembang menjadi MX King 150.
Secara konsep, MX King sebenarnya berada cukup dekat dengan dunia bebek sport.
Mesinnya 150 cc, transmisinya manual, bodinya ramping dan karakter berkendaranya lebih sporty dibandingkan bebek konvensional.
Tetapi formatnya berbeda dengan ayago.
MX King masih mempertahankan desain bebek dengan dek dan ergonomi yang relatif lebih familiar. Sementara Satria F150 dan Sonic 150R menawarkan bentuk yang jauh lebih ramping dengan posisi berkendara yang menjadi ciri khas ayago.
Dengan kata lain, Yamaha sebenarnya sudah memiliki produk manual 150 cc yang sporty. Hanya saja, mereka memilih jalur desain yang berbeda.
Membuat Ayago Baru Bukan Sekadar Ganti Bodi
Ada anggapan bahwa Yamaha sebenarnya cukup mengambil mesin MX King kemudian memasukkannya ke dalam rangka yang lebih kecil.
Dalam praktiknya, pengembangan produk tidak sesederhana itu.
Ayago membutuhkan karakter rangka, distribusi bobot, suspensi, posisi mesin, ergonomi, hingga geometri kemudi yang sesuai dengan konsepnya.
Motor harus tetap stabil ketika digunakan menikung, melakukan pengereman, maupun melaju dalam kecepatan tinggi.
Artinya, jika Yamaha benar-benar membuat ayago modern 150 cc, perusahaan harus mengembangkan lebih dari sekadar desain baru.
Ada investasi riset, pengujian, komponen, produksi, pemasaran, hingga jaringan penjualan yang harus diperhitungkan.
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih sederhana: seberapa besar pasar yang bisa didapat?
Pasar Motor Indonesia Sudah Berubah
Inilah salah satu faktor yang membuat cerita ayago menjadi menarik.
Pasar sepeda motor Indonesia saat ini sangat didominasi skutik. Pilihan konsumen juga semakin beragam.
Bagi mereka yang menginginkan motor manual dengan karakter sporty, tersedia pula naked bike maupun sport bike entry-level.
Artinya, konsumen yang benar-benar mencari ayago merupakan ceruk yang lebih spesifik.
Satria F150 memang masih memiliki nama besar di segmen tersebut. Honda Sonic 150R juga menjadi salah satu pilihan yang dikenal konsumen.
Namun, belum tentu ukuran pasar tersebut cukup besar untuk membuat produsen lain tertarik melakukan investasi pengembangan produk baru dari nol.
Yamaha Punya Prinsip Produk Sendiri
Ada hal lain yang menarik dari strategi Yamaha.
Dalam komunikasi produknya, Yamaha pernah menggunakan filosofi “It's Me, Not Me Too”. Secara sederhana, pesan tersebut menggambarkan keinginan untuk menghadirkan produk dengan identitas sendiri, bukan sekadar mengikuti apa yang dilakukan kompetitor.
Jika prinsip tersebut diterapkan pada kasus ayago, Yamaha tentu tidak cukup hanya membuat “Satria versi Yamaha” atau “Sonic versi Yamaha”.
Motor tersebut harus mempunyai alasan tersendiri mengapa konsumen memilihnya.
Ini pula yang membuat kemungkinan hadirnya ayago Yamaha modern akan menjadi menarik jika suatu hari benar-benar terjadi.
Yamaha harus membawa sesuatu yang berbeda, bukan sekadar ikut masuk ke kelas yang sudah ada.
Jadi, Yamaha Tidak Mampu Membuat Ayago?
Kemungkinan besar bukan itu masalahnya.
Secara teknologi dan pengalaman produksi, Yamaha tentu mempunyai kemampuan untuk mengembangkan motor ayago modern.
Yang lebih sulit adalah membuat produk tersebut masuk akal secara bisnis.
Jika pasar menunjukkan permintaan yang besar, peluang tersebut tentu bisa berubah. Apalagi jika tren motor manual kembali menguat atau segmen ayago mendapatkan perhatian baru dari konsumen muda.
Namun, selama pasar skutik masih menjadi tulang punggung penjualan sepeda motor Indonesia, Yamaha mempunyai alasan kuat untuk lebih berhati-hati dalam membuka ceruk baru.
MX King juga masih memberikan Yamaha posisi di kelas motor bebek sporty.
Tiara S 120 Justru Menjadi Petunjuk Menarik
Pada akhirnya, kisah Yamaha Tiara S 120 menjadi bagian paling menarik dari cerita ini.
Yamaha bukan tidak pernah mencoba masuk ke dunia ayago. Mereka bahkan pernah menawarkan motor yang memiliki karakter sangat berbeda dari bebek konvensional.
Hanya saja, perjalanan Tiara S menunjukkan bahwa memiliki produk yang menarik secara teknis belum tentu berarti memiliki pasar yang besar.
Kini, motor tersebut justru semakin menarik ketika dilihat dari sisi sejarah. Unit yang masih bertahan menjadi incaran penggemar dan kolektor.
Jadi, jika suatu hari Yamaha benar-benar menghadirkan ayago modern 150 cc, motor tersebut kemungkinan tidak akan sekadar menjadi “penantang Satria F150”.
Yamaha harus mempunyai alasan yang lebih kuat.
Dan mungkin justru di situlah menariknya menunggu: bukan apakah Yamaha bisa membuat ayago, tetapi apakah Yamaha menemukan alasan yang cukup kuat untuk membuatnya.
Editor : Miko