Radar Nganjuk - Motor listrik buatan dalam negeri semakin mudah ditemui di jalanan. Pilihannya pun tidak lagi sebatas model sederhana untuk perjalanan jarak dekat.
Sejumlah merek lokal menawarkan desain yang lebih modern, performa yang semakin baik, hingga pilihan sistem baterai yang berbeda. Di sisi lain, dukungan pemerintah terhadap pengembangan industri kendaraan listrik nasional juga terus berjalan.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan calon pembeli.
Status TKDN dan status penerima insentif merupakan dua hal yang berbeda. Motor listrik yang memiliki kandungan lokal sesuai ketentuan belum tentu otomatis mendapatkan subsidi pada setiap periode program.
Aturan, model yang memenuhi syarat, kuota, dan skema insentif dapat berubah. Karena itu, pengecekan terbaru tetap penting sebelum melakukan pembelian.
Motor Listrik Lokal Makin Beragam
Bagi konsumen yang ingin beralih dari motor bensin, produk lokal kini cukup banyak untuk disurvei.
Ada motor dengan desain yang masih menyerupai skuter konvensional, ada pula model yang tampil futuristis. Pilihan baterainya juga semakin beragam, termasuk model dengan sistem penukaran baterai.
Berikut tujuh motor listrik nasional yang layak masuk daftar pertimbangan.
7 Motor Listrik Nasional yang Bisa Dipertimbangkan
1. Gesits G1
Gesits G1 merupakan salah satu nama yang paling dikenal ketika membahas motor listrik nasional.
Model ini menarik bagi pengguna yang ingin berpindah ke kendaraan listrik tanpa harus beradaptasi terlalu jauh dengan bentuk motor konvensional.
Karakter G1 cukup cocok untuk mobilitas perkotaan, seperti pergi bekerja, kuliah, atau aktivitas harian dengan jarak pendek hingga menengah.
Gesits sendiri merupakan salah satu merek yang identik dengan pengembangan motor listrik di Indonesia sehingga G1 masih layak diperhitungkan oleh calon pengguna kendaraan listrik lokal.
2. Gesits Raya G
Masih dari Gesits, ada Raya G yang mengusung konsep lebih praktis untuk penggunaan sehari-hari.
Motor ini dapat menjadi pilihan bagi pengguna yang mayoritas aktivitasnya berlangsung di kawasan perkotaan.
Selain tidak menghasilkan suara mesin seperti motor bensin, karakter tenaga motor listrik juga memberikan respons yang berbeda ketika digunakan dalam kondisi lalu lintas padat.
Bagi konsumen yang mencari motor listrik lokal untuk kebutuhan rutin, Raya G bisa masuk dalam daftar survei.
3. Polytron Fox-R
Polytron menjadi salah satu pemain lokal yang cukup aktif di segmen motor listrik.
Salah satu produknya adalah Fox-R. Motor ini menawarkan desain yang lebih besar dan modern dibanding sejumlah motor listrik entry-level.
Salah satu hal yang menarik perhatian dari Polytron adalah konsep Battery as a Service (BaaS). Skema tersebut memberi pendekatan berbeda dalam kepemilikan dan penggunaan baterai.
Bagi konsumen yang masih mempertimbangkan biaya baterai dalam jangka panjang, konsep seperti ini bisa menjadi salah satu faktor penentu.
Polytron sendiri mencantumkan TKDN Fox-R sebesar 45,31 persen pada laman resminya.
4. Volta 401
Volta 401 dapat menjadi pilihan bagi pengguna yang lebih mengutamakan kepraktisan dan biaya kepemilikan.
Salah satu hal yang menarik dari ekosistem Volta adalah penggunaan sistem baterai yang dapat ditukar. Cara tersebut bisa membantu pengguna yang membutuhkan mobilitas tinggi tanpa harus selalu menunggu proses pengisian baterai selesai.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan sebelum membeli: pastikan jaringan penukaran baterai tersedia di wilayah yang memang sering digunakan.
Hal ini penting karena kepraktisan sistem battery swap sangat bergantung pada ketersediaan jaringan.
5. Selis E-Max
Selis E-Max menawarkan pendekatan yang lebih sederhana.
Motor listrik ini cocok untuk konsumen yang tidak terlalu mengejar tampilan agresif atau fitur berlimpah, melainkan membutuhkan kendaraan untuk aktivitas rutin.
Berangkat kerja, berbelanja, mengantar keluarga, atau bepergian di sekitar rumah merupakan jenis penggunaan yang lebih sesuai dengan karakter motor seperti ini.
Selis juga sudah cukup lama dikenal dalam perkembangan kendaraan listrik roda dua di Indonesia sehingga merek ini masih layak masuk daftar pilihan konsumen.
6. United T1800
United T1800 bisa dilirik oleh pengguna yang menginginkan karakter motor listrik dengan performa lebih dibanding model entry-level.
United E-Motor merupakan salah satu merek lokal yang menawarkan beberapa pilihan kendaraan listrik roda dua.
Namun, memilih motor listrik tidak sebaiknya hanya berdasarkan angka tenaga atau kecepatan.
Kapasitas baterai, jarak tempuh dalam penggunaan nyata, bobot motor, jaringan servis, ketersediaan suku cadang, dan biaya perawatan juga perlu diperhitungkan.
Untuk penggunaan jarak jauh, calon pemilik juga perlu memperhitungkan lokasi pengisian daya dan kondisi perjalanan.
7.
Smoot Tempur memiliki pendekatan berbeda karena mengandalkan konsep battery swap.
Dengan sistem tersebut, pengguna tidak selalu harus menunggu baterai terisi penuh. Selama jaringan penukaran tersedia, baterai dapat diganti untuk melanjutkan perjalanan.
Karakter seperti ini cukup menarik bagi pekerja atau pengguna dengan mobilitas tinggi di perkotaan.
Namun, sama seperti kendaraan listrik dengan sistem serupa, calon pengguna perlu melihat apakah jaringan penukaran baterai memang mudah dijangkau dari rumah, kantor, maupun rute harian.
TKDN Tidak Otomatis Berarti Dapat Subsidi
Ini bagian yang sering disalahpahami calon pembeli.
TKDN menunjukkan seberapa besar kandungan komponen dalam negeri pada sebuah produk. Pemerintah memang mendorong penggunaan komponen dalam negeri dalam pengembangan kendaraan listrik. Untuk KBL berbasis baterai roda dua, ketentuan TKDN minimum ditetapkan 40 persen untuk periode 2019-2026 dan meningkat menjadi 60 persen mulai 2027.
Namun, memenuhi angka TKDN tidak dengan sendirinya berarti sebuah model selalu memperoleh subsidi pembelian.
Konsumen tetap harus melihat program insentif yang berlaku pada saat transaksi, termasuk model yang masuk daftar penerima dan ketentuan lain yang ditetapkan pemerintah.
Karena itu, jangan menjadikan angka TKDN sebagai satu-satunya patokan saat menentukan pilihan.
Pemerintah Masih Mendorong Industri Motor Listrik Nasional
Dukungan pemerintah terhadap industri motor listrik nasional masih berlanjut.
Pada 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pemerintah memberikan insentif bagi perusahaan Indonesia yang mampu memproduksi satu juta unit motor listrik dalam negeri. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menekan biaya kendaraan, mengurangi konsumsi BBM impor, sekaligus memperkuat industri dan rantai pasok motor listrik nasional.
Artinya, arah kebijakan pemerintah bukan sekadar mendorong masyarakat membeli motor listrik, tetapi juga memperbesar kapasitas industri nasional.
Bagi konsumen, perkembangan tersebut cukup menarik karena semakin banyak produk lokal yang berpotensi hadir dengan teknologi dan pilihan yang lebih beragam.
Mana yang Paling Cocok untuk Kebutuhan Harian?
Tidak ada satu motor listrik yang otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua orang.
Gesits G1 dan Raya G dapat dipertimbangkan oleh pengguna yang mencari produk dengan identitas lokal yang kuat. Polytron Fox-R menarik untuk konsumen yang ingin pendekatan berbeda terhadap kepemilikan baterai.
Sementara itu, Volta 401 dan Smoot Tempur patut dipertimbangkan oleh pengguna yang tertarik pada sistem penukaran baterai.
Selis E-Max bisa menjadi pilihan bagi mereka yang membutuhkan kendaraan sederhana untuk mobilitas harian. Sedangkan United T1800 lebih menarik bagi konsumen yang menginginkan karakter berkendara yang lebih bertenaga.
Jangan Hanya Mengejar Harga Setelah Insentif
Harga memang penting, tetapi jangan sampai menjadi satu-satunya alasan membeli motor listrik.
Sebelum transaksi, bandingkan harga akhir, kapasitas dan biaya baterai, jarak tempuh nyata, waktu pengisian, jaringan servis, ketersediaan suku cadang, serta infrastruktur penukaran atau pengisian daya.
Yang juga tidak kalah penting, pastikan kembali kepada dealer apakah unit yang hendak dibeli benar-benar mendapatkan insentif yang berlaku pada saat transaksi.
Dengan begitu, keputusan membeli motor listrik bukan hanya karena tergiur label “subsidi”, tetapi memang sesuai kebutuhan dan kondisi penggunaan sehari-hari.
Editor : Miko