Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mengenal Ki Hajar Dewantara, Tokoh Pelopor Pendidikan Nasional Indonesia

Elna Malika • Jumat, 2 Mei 2025 | 17:34 WIB
Mengenal Ki Hajar Dewantara, Tokoh Pelopor Pendidikan Nasional Indonesia
Mengenal Ki Hajar Dewantara, Tokoh Pelopor Pendidikan Nasional Indonesia
 
JP Radar Nganjuk - Ki Hajar Dewantara, yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, adalah sosok yang meletakkan dasar kuat bagi pendidikan di Indonesia.
 
Berasal dari keluarga bangsawan Jawa, ia memiliki privilege untuk mengakses pendidikan formal, tetapi semangatnya untuk memperjuangkan hak rakyat kecil membuatnya menjadi tokoh revolusioner.
 
Ia dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional karena dedikasinya dalam menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berorientasi pada kebudayaan lokal.
 
Soewardi muda dikenal kritis terhadap ketidakadilan yang terjadi di masa penjajahan Belanda. Pada usia 24 tahun, ia menulis artikel berjudul Als Ik Een Nederlander Was (Seandainya Saya Orang Belanda) yang menggugat perayaan kemerdekaan Belanda di tanah jajahan.
 
Tulisan ini begitu tajam sehingga ia diasingkan ke Belanda pada 1913. Pengalaman ini justru memperkaya wawasannya tentang pendidikan dan kebebasan.
 
 
Setelah kembali ke Indonesia, Soewardi mengubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara pada 1922, menanggalkan gelar bangsawan sebagai bentuk solidaritas dengan rakyat jelata.
 
Ia percaya bahwa pendidikan adalah alat utama untuk membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan, baik secara fisik maupun mental.
 
Pada 3 Juli 1922, Ki Hajar mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta, sebuah lembaga pendidikan yang menjadi cikal bakal sistem pendidikan nasional.
 
Berbeda dengan sekolah Belanda yang elitis, Taman Siswa menawarkan pendidikan yang terjangkau dan relevan bagi anak-anak pribumi.
 
Ia memperkenalkan konsep Among, yaitu pendidikan yang mengutamakan kasih sayang, kebebasan berekspresi, dan pengembangan potensi individu.
 
 
Filosofi pendidikan Ki Hajar dirangkum dalam semboyan Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani (Di depan memberi teladan, di tengah membangun motivasi, di belakang memberikan dorongan).
 
Prinsip ini menekankan peran guru sebagai fasilitator, bukan penguasa dalam proses belajar. Pendidikan di Taman Siswa juga mengintegrasikan seni, budaya Jawa, dan nilai-nilai kemanusiaan untuk membentuk karakter siswa.
 
Ki Hajar tidak hanya berjuang melalui pendidikan, tetapi juga aktif dalam politik dan jurnalistik. Ia turut mendirikan organisasi Boedi Oetomo dan menjadi anggota Partai Nasional Indonesia.
 
Setelah Indonesia merdeka, ia diangkat sebagai Menteri Pendidikan pertama pada 1945, di mana ia memperjuangkan akses pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat.
 
Warisan Ki Hajar tetap hidup hingga kini. Filosofinya tentang pendidikan yang memanusiakan manusia menjadi landasan bagi kurikulum pendidikan di Indonesia.
 
 
Tanggal kelahirannya, 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional untuk mengenang jasa-jasanya. Taman Siswa pun masih eksis sebagai lembaga yang melestarikan nilai-nilai pendidikan berbasis budaya.
 
Pemikiran Ki Hajar tentang pendidikan yang berpihak pada kebebasan dan identitas budaya tetap relevan di tengah tantangan globalisasi.
 
Di era digital, di mana pendidikan sering kali terjebak pada aspek teknis, pendekatan holistik Ki Hajar mengingatkan kita untuk tidak melupakan pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan.
 
Sistem Among juga dapat menjadi inspirasi untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan kreatif.
 
Ki Hajar Dewantara meninggal dunia pada 26 April 1959, tetapi semangatnya terus menginspirasi. Ia mengajarkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses memerdekakan jiwa dan membangun bangsa.
 
Melalui perjuangannya, Ki Hajar telah menorehkan jejak abadi sebagai pelopor pendidikan Indonesia yang visioner.
Editor : Elna Malika
#Tokoh #bangsawan #tut wuri handayani #ki hajar dewantara #radar nganjuk #jawa #Revolusioner #indonesia #Ing Madya Mangun Karsa #Ing Ngarsa Sung Tulada #Raden Mas Soewardi Soerjaningrat #pendidikan #nasional