NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Kegelisahan calon siswa baru SMAN di daerah perbatasan akhirnya direspons Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Timur (Jatim).
Kemarin, Disdik Provinsi Jatim mengizinkan calon siswa baru yang berada di perbatasan dengan Kabupaten Nganjuk untuk mendaftar jalur domisili di Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMAN Kabupaten Nganjuk.
Sehingga, calon siswa baru yang berdomisili di Desa Mekikis, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, dan Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang serta Desa Mojokambang, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang bisa mendaftar ke SMAN 1 Kertosono dan SMAN 1 Patianrowo.
Karena jarak ke rayon V yang diisi SMAN 1 Kertosono dan SMAN 1 Patianrowo jauh lebih dekat dibandingkan ke SMAN 1 Bandarkedungmulyo dan SMAN 1 Purwoasri.
“Beberapa daerah perbatasan di luar Kabupaten Nganjuk diputuskan bisa mendaftar ke SMAN di Kabupaten Nganjuk,” terang Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Jatim Wilayah Nganjuk Evi Dwi Widadjanti.
Selain siswa dari tiga desa di atas, tiga desa di Kabupaten Kediri juga diizinkan mendaftar SPMB jalur domisili di rayon 2 yang berisi SMAN 1 Sukomoro, SMAN 2 Nganjuk, dan SMAN 1 Pace.
Tiga desa tersebut adalah Desa Cengkok, Jati, dan Kedungsari, ketiganya berada di Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri.
Kemudian, siswa di Desa Bandungan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun bisa mendaftar SPMB SMAN jalur domisili di rayon 3 yang berisi SMAN 3 Nganjuk, SMAN 1 Gondang, dan SMAN 1 Rejoso.
“Disdik Provinsi Jawa Timur mempertimbangkan jarak rumah siswa dengan SMAN untuk penentuan rayon itu,” ungkap Evi.
Kebijakan Disdik Provinsi Jatim yang memasukkan daerah perbatasan ke rayon SMAN di Kabupaten Nganjuk direspons positif orang tua wali murid di perbatasan Nganjuk.
Susanti, 45, warga Desa Mekikis, Kecamatan Purwoasri mengaku bersyukur anaknya bisa mendaftar SPMB di SMAN 1 Kertosono.
Karena jika rayon tersebut sesuai dengan alamat SMAN maka akan membuat repot calon siswa baru di perbatasan.
“Kami itu domisili memang di Kabupaten Kediri tetapi semua aktivitas mulai belanja di pasar, sekolah, hingga berobat itu ke Kertosono,” ujarnya.
Susanti berharap, tahun depan, sudah tidak menggunakan sistem rayon. Dia ingin nilai ujian nasional (NUN) menjadi syarat siswa mendaftar di SPMB.
Sehingga, siswa akan termotivasi belajar. Bukan jarak rumah dengan SMAN.
“Anak itu harus punya motivasi belajar. Nilai itu harusnya jadi patokan siswa untuk mendaftar di SMAN,” tandasnya.
Ibu dua anak ini mengatakan, saat ini, siswa menjadi kurang termotivasi untuk belajar. Karena mereka mengandalkan alamat rumah untuk masuk SMAN.
Sehingga, jiwa kompetisi tidak tumbuh. “Kalau rumahnya dekat SMAN maka otomatis akan diterima. Jadi, mereka tidak akan semangat belajar,” ujarnya. (wib/tyo)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira