JP RADAR NGANJUK - Jurusan sastra seringkali dipandang sebelah mata. Di media sosial banyak bermunculan persepsi publik yang meremehkan jurusan Sastra Indonesia. Pandangan seperti ini tentu membuat banyak mahasiswa sastra merasa geram dan rendah diri.
Persepsi negatif ini umumnya lahir dari anggapan bahwa kuliah di jurusan Sastra Indonesia tidak memerlukan keterampilan khusus. Semua orang Indonesia sudah fasih berbahasa Indonesia. Mahasiswwa yang belajar ilmu ini dianggap membuang-buang waktu.
Banyak orang mengira materi kuliah hanya seputar membaca dan menulis cerita. mereka tidak menyadari adanya kedalaman teori linguistik, analisis teks, dan kajian budaya yang menjadi inti perkuliahan. Anggapan yang keliru membuat jurusan Sastra Indonesia sering dicap sebagai jurusan “buangan” atau pilihan terakhir. Prospek karier lulusannya pun diremehkan.
Baca Juga: Kenali Istilah Brainrot dan Dampaknya Bagi Otak
Padahal, pandangan tersebut jauh dari kebenaran. Lulusan Sastra Indonesia sering dianggap “madesu” (masa depan suram) karena skill mereka dianggap tidak eksklusif dan tidak sepraktis jurusan lain. Pada kenyataannya jurusan ini mempersiapkan mahasiswa dengan kemampuan analitis, kritis, dan lintas disiplin yang sangat berharga. Kemampuan ini sangat dibutuhkan di berbagai sektor, mulai dari penelitian bahasa, industri kreatif, media, pendidikan, hingga diplomasi.
Salah satu peluang karier yang sering tidak disadari adalah posisi di lembaga-lembaga bahasa dan kebudayaan. Lulusan Sastra Indonesia bisa menjadi peneliti di Badan Bahasa, bergabung dalam tim penyusun kamus, atau berperan dalam menentukan standar bahasa Indonesia.
Di jurusan ini, mahasiswa mempelajari mata kuliah kebahasaan atau linguistik. Pembahasan mengenai bagaimana bahasa lahir, berkembang, dan berubah dari waktu ke waktu masuk dalam ranah ini. Fenomena bahasa baru yang muncul di media sosial turut menjadi kajian bagi mahasiswa sastra karena mencerminkan pola pikir, psikologi, dan dinamika sosial masyarakat.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Novel untuk Belajar Sejarah Indonesia
Selain linguistik, jurusan Sastra Indonesia juga memperdalam rumpun kesastraan.Studi tentang karya sastra, sejarah sastra, kritik sastra, dan estetika menjadi bagian sentral. Pengetahuan ini membuka peluang karier yang beragam. Lulusan sastra bisa menjadi penulis, editor, kritikus sastra, hingga pengajar dan akademisi.
Di beberapa universitas, mahasiswa sastra juga dapat memilih konsentrasi tambahan. Jurnalistik dan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) adalah salah satunya. Konsentrasi ini membuka alternatif karier yang luas. Wartawan, content writer, dan pengajar bahasa Indonesia untuk warga negara asing adalah profesi yang diharapkan. Jika mengambil konsentrasi linguistik forensik, peluang untuk menjadi saksi ahli di pengadilan juga terbuka lebar. Bayaran yang didapat pun juga cukup besar.
Tidak kalah penting, lulusan Sastra Indonesia juga memiliki modal berpikir lintas peradaban. Modal ini sangat berguna jika ingin berkarier di bidang diplomasi, seperti menjadi diplomat atau pegawai di kedutaan. Pemahaman mendalam tentang budaya dan bahasa memungkinkan mereka untuk menjadi jembatan komunikasi antarbangsa.
Oleh karena itu, persepsi negatif terhadap jurusan Sastra Indonesia perlu diluruskan. Menganggap remeh jurusan ini bukan hanya merugikan para mahasiswa dan lulusannya, tetapi juga dapat menghambat perkembangan ilmu bahasa dan sastra itu sendiri.
Di era global yang penuh tantangan, kemampuan memahami bahasa dan budaya secara kritis adalah aset penting. Mengubah stigma menjadi apresiasi akan membuka jalan bagi lebih banyak orang untuk memanfaatkan potensi besar yang ditawarkan oleh bidang ilmu ini.
Baca Juga: Menjembatani Karya Sastra dan Generasi Muda melalui Ekranisasi
Widia Isnaini Rochmatun Nikmah - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis