JP RADAR NGANJUK Banyak orang pernah merasakan detak jantung meningkat ketika guru matematika memasuki kelas, atau merasa sepenuhnya bingung saat berhadapan dengan soal aljabar. Jika pengalaman tersebut pernah terjadi, Anda tidak sendirian. Matematika kerap menjadi mata pelajaran yang paling menimbulkan kecemasan dan kurang diminati. Hal ini biasanya berawal dari anggapan bahwa matematika merupakan bidang yang kompleks, abstrak, serta dipenuhi rumus yang tampak membingungkan dan seolah tidak memiliki hubungan dengan kehidupan nyata.
Salah satu alasan utama munculnya ketidaksukaan tersebut adalah sifat matematika yang dianggap rumit dan bersifat abstrak. Tidak seperti sejarah atau biologi yang menyajikan alur cerita, matematika berurusan dengan angka, simbol, dan konsep yang tidak tampak secara konkret. Bagi sebagian siswa, memahami variabel seperti ‘x’ dan ‘y’ terasa seperti menafsirkan kode tanpa konteks. Minimnya unsur naratif membuat matematika mudah dirasakan kering dan sulit dipahami, terutama oleh mereka yang lebih mengandalkan gaya belajar visual atau kinestetik.
Faktor lain yang turut memperburuk persepsi terhadap matematika adalah pola pengajaran yang cenderung berulang dan tidak bervariasi. Siswa sering menghadapi situasi di mana guru menuliskan rumus, siswa mencatat, lalu mengerjakan deretan soal dengan pola serupa. Ketika metode ini diterapkan terus-menerus tanpa inovasi, kebosanan cepat muncul. Apalagi jika guru tampil dengan sikap terlalu formal atau bahkan menakutkan, suasana kelas menjadi tidak nyaman. Ketakutan untuk bertanya atau melakukan kesalahan pun akhirnya menekan rasa ingin tahu siswa.
Pengalaman negatif juga dapat membentuk hambatan psikologis yang kuat. Nilai buruk sekali saja, atau dimarahi di depan kelas karena tidak mampu menjawab soal, bisa meninggalkan trauma. Pengalaman awal yang tidak menyenangkan ini sering berkembang menjadi keyakinan personal seperti, “Saya memang tidak berbakat matematika.” Keyakinan tersebut kemudian berkembang menjadi ramalan yang terwujud dengan sendirinya, di mana siswa menyerah sebelum mencoba.
Selain itu, banyak siswa merasa matematika tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Rumus seperti Pythagoras atau persamaan kuadrat sering diajarkan tanpa pemahaman mengenai kegunaan praktisnya. Ketika siswa tidak melihat hubungan antara materi abstrak dan aktivitas sederhana—misalnya menghitung belanja, memperkirakan jarak, atau membuat rencana anggaran—motivasi belajar pun menurun. Matematika akhirnya dianggap sebagai disiplin yang jauh dari realitas.
Namun demikian, peluang untuk membangun kembali hubungan positif dengan matematika tetap terbuka. Kuncinya terletak pada perubahan pendekatan pembelajaran. Matematika perlu diposisikan sebagai sarana berpikir logis dan penyelesaian masalah, bukan sekadar kumpulan rumus untuk dihafal. Aktivitas berbasis permainan, proyek kontekstual, serta contoh aplikasi nyata dapat membantu mendekatkan konsep abstrak ke dunia siswa. Dengan menepis anggapan bahwa matematika adalah sesuatu yang menakutkan dan menunjukkan manfaat praktisnya, pelajaran ini dapat bertransformasi dari sesuatu yang dihindari menjadi tantangan intelektual yang menarik untuk dipelajari.
Dita Amelia Ningsih
Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Karen Wibi