Pendidikan karakter siswa menjadi fokus utama di SDN 1 Ploso. Lewat pembiasaan yang baik setiap hari, siswa diajak untuk menjadi pribadi yang baik. Kepala sekolah dan guru turun langsung memberi contoh dan mendidik siswa agar memiliki akhlak yang baik.
"Siswa wajib memakai seragam sekolah yang telah disetrika ke sekolah," tandas
Kepala SDN 1 Ploso Yunita Kristanti. Peraturan tersebut dibuat agar siswa memiliki kedisiplinan dan menjaga kebersihan. Karena di awal tahun 2025 saat Yunita menjadi kepala sekolah di sana, dia menjumpai siswa yang memakai seragam lusuh. Ironisnya, ada juga siswa yang berangkat ke sekolah tidak mandi. Saat ditanya, ternyata siswa tersebut tidak memiliki setrika di rumah. Dia juga bangun kesiangan karena tidur larut malam. Tidak salat Subuh. Berangkat buru-buru ke sekolah dengan tidak mandi dan berpakaian lusuh. Ada kancing baju seragam yang lepas juga.
Saat itu, Yunita langsung menyediakan setrika, jarum, dan benang di sekolah.
Saat hari Jumat, Yunita dan guru bertanya kepada seluruh siswa. "Siapa yang tidak punya setrika di rumah?" tanya Yunita kepada semua siswa-siswanya.
Untuk siswa yang tidak memiliki setrika, Yunita mewajibkan siswa membawa seragam ke sekolah. Kemudian, mereka wajib menyetrika sendiri seragamnya. Jika ada kancing baju seragam yang lepas, para guru mengajari memasangnya. "Gratis untuk setrika di sekolah," imbuhnya.
Setelah persoalan seragam lusuh selesai, Yunita dan para guru menanamkan semangat nasionalisme. Setiap hari, siswa yang datang ke sekolah disambut para guru di gerbang dengan senyum, salam, dan sapa. Lalu, mereka mengibarkan bendera Merah Putih. "Pengibaran bendera Merah Putih tidak hanya saat upacara tetapi setiap hari. Petugas pengibar bendera Merah Putih bergantian," terangnya.
Setelah itu, siswa masuk kelas. Sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM), siswa diajak berdoa terlebih dulu. Hal ini dilakukan setiap hari. "Dengan berdoa maka Allah SWT akan memberikan kemudahan dalam segala hal termasuk memahami materi pelajaran," ujarnya.
Menurut Yunita, seluruh tenaga pendidik di sekolah ikut terlibat dalam pembiasaan tersebut. SDN 1 Ploso memiliki enam guru kelas dan tiga guru mata pelajaran yang saling mendukung dalam membentuk karakter siswa. "Jika ada siswa yang tidak masuk maka kami akan mengunjungi untuk menjenguk dan mengecek apakah benar siswa tersebut sakit atau bolos. Karena siswa itu kami anggap sebagai anak sendiri," ujarnya.
Pembiasaan yang baik selama setahun tersebut perlahan membawa perubahan. Hasilnya, prestasi demi prestasi mulai dari prestasi akademik dan non-akademik ditorehkan siswa dan guru SDN 1 Ploso. Karena selain mewajibkan siswa berkompetisi untuk mendapat pengalaman dan mengasah mental, kepala sekolah berusia 41 tahun ini juga mengharuskan guru ikut berlomba. Hal ini agar mereka bisa terus meningkatkan kemampuan untuk peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar.
Sementara itu, Tangga Agar Bagus, siswa kelas IV mengaku senang dengan pembiasaan yang baik di sekolahnya. Dia tidak keberatan dan merasa terbebani dengan adanya peraturan di sekolahnya untuk mendidik akhlak dan karakter siswa. "Saya juga senang diajari memasang kancing baju yang lepas. Jadi, tidak bingung lagi saat kancing baju lepas," ujarnya. (nov/tyo)