Kepala SMAN 1 Gondang Agus Susilo memiliki cara untuk membentuk karakter siswa. Agus memiliki Hari Jumat. Ada tiga program yang dilaksanakan di hari terakhir masuk sekolah untuk SMAN di wilayah Jawa Timur. Tujuannya membentuk karakter, kesehatan, dan kecerdasan.
NOVANDA NIRWANA – NGANJUK, JP Radar Nganjuk
“Jumat Iman, Jumat Cerdas, dan Jumat Sehat adalah program wajib di Smago,” ujar Kepala SMAN 1 Gondang Agus Susilo. Selama sekitar 2,5 tahun memimpin SMAN 1 Gondang, Agus berupaya membangun lingkungan sekolah yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik. Pembentukan karakter dan kebiasaan baik siswa menjadi salah satu perhatian utamanya.
Baca Juga: Gedung Belum Rampung, KBM Sekolah Rakyat Nganjuk Belum Bisa Dimulai
Sebelum menjabat sebagai kepala SMAN 1 Gondang, Agus merupakan Kepala SMAN 1 Rejoso. Pria yang beralamatkan di Desa Banaran Wetan, Kecamatan Bagor, itu membawa pendekatan pembinaan karakter ke sekolah yang kini dipimpinnya.
“Saya selalu mendekatkan siswa kepada tujuannya,” ujarnya. Menurut Agus, karakter siswa tidak bisa dibentuk hanya melalui nasihat. Kebiasaan yang dilakukan secara konsisten menjadi salah satu cara untuk menanamkan nilai kedisiplinan dan tanggung jawab.
Baca Juga: Akhir Bulan Sekolah Rakyat Harus Mulai KBM
Karena itu, SMAN 1 Gondang memiliki sejumlah kegiatan rutin setiap Jumat. Yakni, Jumat Iman, Jumat Cerdas, dan Jumat Sehat. Ketiganya dirancang untuk menjaga keseimbangan antara pengembangan akademik, kesehatan, serta kehidupan spiritual siswa. “Harus seimbang antara dunia dan akhirat,” jelasnya.
Dalam aspek keagamaan, siswa juga dibiasakan melaksanakan salat secara rutin. Setiap Jumat, salat Jumat menjadi kegiatan wajib bagi siswa sesuai ketentuan yang berlaku. Kebiasaan tersebut perlahan dibangun hingga siswa melakukannya tanpa harus selalu diingatkan. “Tanpa ada jadwal pun mereka sudah terbiasa,” katanya.
Tak berhenti di lingkungan sekolah, Agus juga berupaya agar pembentukan karakter berlangsung hingga ke rumah. Setiap siswa diberikan buku kebiasaan. Buku tersebut diisi dengan berbagai aktivitas yang dilakukan siswa setiap hari
Mulai dari kegiatan saat berada di rumah, menu sarapan, kegiatan belajar hingga aktivitas lainnya. Orang tua kemudian turut dilibatkan dengan menuliskan tanda tangan sebagai bentuk pemantauan.
Dengan cara tersebut, sekolah tidak berjalan sendiri dalam membentuk karakter siswa. Ada sinergi antara guru, siswa, dan orang tua untuk mengetahui kebiasaan anak di luar lingkungan sekolah.
Baca Juga: 66 Sekolah di Nganjuk Sukses Direvitalisasi, Mendikdasmen Abdul Mu’ti Targetkan Tambah Kuota di 2026
“Buku tersebut kami pantau rutin setiap satu minggu sekali,” terangnya.
Agus menyadari, membentuk karakter siswa bukan pekerjaan yang instan.
Terutama ketika berhadapan dengan siswa baru yang masih membawa kebiasaan dari lingkungan sebelumnya. “Kalau siswa yang baru masuk memang agak susah membentuk karakternya,” ungkapnya.
Baca Juga: Dilema Libur Panjang: Sekolah di Nganjuk Waswas Penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) Jalan Terus
Namun, proses tersebut tidak hanya dibebankan kepada guru. Siswa kelas XI dan XII juga didorong menjadi contoh bagi adik kelasnya. Keteladanan dari siswa yang lebih senior diharapkan dapat membantu menciptakan budaya positif di lingkungan sekolah.
Selain pembiasaan, kedisiplinan juga ditegakkan melalui aturan dan konsekuensi. Jika ada siswa yang mulai tidak disiplin, sekolah memberikan punishment sesuai pelanggarannya.
Baca Juga: Mengenal Mariati, Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Nganjuk
Namun, Agus tidak ingin hukuman berhenti pada siswa. Ketika pelanggaran terulang, orang tua juga dipanggil ke sekolah. Langkah tersebut dilakukan agar pengawasan terhadap siswa dapat dilanjutkan di rumah. “Kami ingin orang tua ikut memantau dan mengawasi sang buah hati,” pungkasnya.
Editor : rekian