Jakarta, Radar Nganjuk —* Hari Pramuka kembali diperingati pada 14 Agustus 2026. Tahun ini, Gerakan Pramuka memasuki usia ke-65 sejak diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat pada 14 Agustus 1961. Untuk peringatan tahun ini, Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka mengangkat tema “ Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045 .” (Kwartir Nasional)
Tema tersebut menunjukkan bahwa Pramuka ingin mengambil bagian dalam persoalan yang lebih luas. Tidak hanya berkutat pada kegiatan perkemahan, keterampilan lapangan, atau kegiatan seremonial, tetapi juga ikut mendorong kepedulian generasi muda terhadap kebutuhan bangsa, salah satunya ketahanan dan kemandirian pangan.
Kwarnas menjelaskan, tema tersebut memiliki tiga pesan utama. Pertama, “ memantapkan langkah organisasi ” berkaitan dengan upaya menjadikan Gerakan Pramuka lebih modern, profesional, dan tertata. Kedua, dukungan terhadap *swasembada pangan* menjadi bentuk pengabdian Pramuka kepada masyarakat. Ketiga, arah *Indonesia Emas 2045* menempatkan Pramuka sebagai salah satu wadah untuk menyiapkan generasi muda yang akan menjadi bagian penting dari masa depan Indonesia. (Kwartir Nasional)
Mengapa Swasembada Pangan?
Pemilihan swasembada pangan sebagai bagian dari tema tahun ini cukup menarik. Bagi sebagian orang, isu pangan mungkin terlihat jauh dari dunia kepramukaan. Padahal, banyak kegiatan Pramuka yang dapat dikaitkan dengan pembentukan kebiasaan hidup mandiri dan peduli terhadap lingkungan.
Belajar menanam, mengenal tanaman pangan, menjaga lingkungan, memanfaatkan lahan, hingga tidak membuang-buang makanan merupakan contoh sederhana yang dapat dilakukan di lingkungan sekolah maupun keluarga.
Dari kegiatan seperti itu, anggota Pramuka tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar bahwa kemandirian pangan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Karena itu, dukungan terhadap swasembada pangan tidak harus selalu diwujudkan melalui program besar. Bagi anggota Pramuka, langkah tersebut dapat dimulai dari kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pramuka dan Tantangan Zaman
Memasuki usia 65 tahun, Gerakan Pramuka juga menghadapi perubahan zaman yang tidak kecil. Generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu. Teknologi digital, perubahan pola komunikasi, persoalan lingkungan, serta berbagai tantangan sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat organisasi seperti Pramuka perlu terus menyesuaikan diri. Nilai dasar seperti disiplin, gotong royong, tanggung jawab, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap sesama tetap penting. Namun, cara menyampaikannya kepada generasi muda perlu mengikuti perkembangan zaman.
Hal inilah yang tercermin dalam pesan “ memantapkan langkah organisasi ”. Menurut Kwarnas, bagian tersebut menggambarkan transformasi Gerakan Pramuka agar semakin mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan generasi muda. (Kwartir Nasional)
Menuju Indonesia Emas 2045
Target Indonesia Emas 2045 juga tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai generasi muda. Mereka yang saat ini menjadi pelajar dan anggota Pramuka nantinya akan menjadi bagian dari masyarakat yang menentukan arah Indonesia pada 2045.
Dalam konteks tersebut, pendidikan karakter menjadi hal yang penting. Pramuka memiliki pengalaman panjang dalam memberikan pembelajaran melalui kegiatan langsung. Anggota belajar bekerja dalam kelompok, menyelesaikan tugas, mengambil keputusan, memimpin kegiatan, dan bertanggung jawab atas perannya.
Pengalaman semacam itu menjadi bekal yang tidak kalah penting dengan pengetahuan akademik. Sebab, pembangunan sebuah negara bukan hanya membutuhkan orang yang pintar, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang memiliki tanggung jawab, mampu bekerja sama, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Logo Hari Pramuka ke-65
Selain tema, Kwarnas juga telah meluncurkan logo resmi Hari Pramuka ke-65. Logo tersebut dirancang dengan sejumlah unsur yang menggambarkan karakter Gerakan Pramuka.
Angka *65* menggunakan garis melengkung yang menyerupai aliran air dan kepakan sayap. Bentuk ini menggambarkan gerakan yang dinamis, fleksibel, serta semangat untuk terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai dasar kepramukaan. (Kwartir Nasional)
Logo tersebut juga memuat *tunas kelapa*, yang selama ini menjadi identitas utama Gerakan Pramuka Indonesia. Tunas kelapa menggambarkan anggota Pramuka sebagai tunas bangsa yang diharapkan tangguh, bermanfaat, dan mampu beradaptasi dalam berbagai keadaan.
Sementara itu, terdapat pula lambang kepramukaan dunia yang menunjukkan bahwa Gerakan Pramuka Indonesia merupakan bagian dari persaudaraan kepanduan internasional. (Kwartir Nasional)
Warna yang digunakan juga memiliki pesan. Merah dan putih menggambarkan keberanian, kesucian, dan jati diri bangsa. Warna emas atau kuning berkaitan dengan kejayaan dan optimisme menuju Indonesia Emas 2045. Adapun hijau toska mencerminkan semangat pembaruan serta kepedulian terhadap lingkungan. (Kwartir Nasional)
Bukan Sekadar Peringatan
Peringatan Hari Pramuka setiap tahun biasanya diisi dengan upacara, perkemahan, lomba, dan berbagai kegiatan lainnya. Namun, peringatan ke-65 tahun ini membawa pesan yang lebih luas.
Tema yang diangkat mengingatkan bahwa kegiatan Pramuka seharusnya tidak berhenti pada acara peringatan. Nilai yang diperoleh selama mengikuti kegiatan kepramukaan perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap mandiri, mau bekerja sama, menjaga lingkungan, menghargai pangan, dan bersedia membantu masyarakat merupakan bentuk sederhana dari semangat tersebut.
Pada akhirnya, usia 65 tahun bukan hanya tentang perjalanan panjang sebuah organisasi. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali peran Pramuka di tengah perubahan zaman.
Dengan tema “ Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045 ,” Gerakan Pramuka ingin menegaskan bahwa pembentukan generasi muda tidak dapat dipisahkan dari persoalan nyata yang dihadapi bangsa.
Pramuka diharapkan tetap menjadi tempat bagi anak muda untuk belajar, berkarya, dan mengabdi. Dari kegiatan yang sederhana, tumbuh kebiasaan untuk mandiri dan peduli. Dari kebiasaan itulah, karakter generasi masa depan dibentuk.
Editor : rekian