Murid Menjemput Sejarah, Cara Dindik Jatim Tanamkan Nasionalisme

Karen Wibi • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 13:12 WIB
Murid Menjemput Sejarah, Cara Dindik Jatim Tanamkan Nasionalisme
Murid Menjemput Sejarah, Cara Dindik Jatim Tanamkan Nasionalisme

NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Ada cara berbeda yang dilakukan Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur untuk mengajak pelajar memaknai kemerdekaan.

Menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Dindik Jatim menginisiasi gerakan “Murid Menjemput Sejarah: 81 Tahun Indonesia Merdeka”.

Lewat kegiatan tersebut, pelajar diajak datang langsung menemui veteran maupun keluarga pejuang di daerah masing-masing. Mereka tidak hanya mendengar cerita perjuangan, tetapi juga bisa berbincang langsung dengan orang yang memiliki keterkaitan dengan sejarah bangsa.

Gerakan ini berlangsung pada 12–16 Agustus 2026.

Pelajar Datang Langsung ke Rumah Veteran

Kegiatan tersebut melibatkan sekolah SMA, SMK, dan SLB di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Setiap sekolah diarahkan mengunjungi sedikitnya satu veteran atau keluarga pejuang kemerdekaan.

Di sana, para murid bersama guru mendengarkan kisah perjuangan yang disampaikan langsung oleh veteran atau keluarganya.

Cara seperti ini sengaja dipilih agar pelajar tidak hanya mengenal sejarah melalui buku pelajaran.

Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai mengatakan, pertemuan langsung tersebut diharapkan membuat pelajar lebih memahami arti kemerdekaan.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal kemerdekaan dari buku pelajaran, upacara, atau cerita di ruang kelas. Kami ingin mereka datang langsung, duduk bersama para veteran dan keluarga pejuang, mendengar kisahnya, melihat keteladanannya,” ujar Aries, Sabtu (15/8).

Menurutnya, pengalaman tersebut penting agar generasi muda memahami bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini tidak diperoleh dengan mudah.

Ada perjuangan dan pengorbanan panjang yang dilakukan generasi sebelumnya.

Bukan Sekadar Membawa Bingkisan

Dalam kegiatan tersebut, murid juga membawa bingkisan untuk veteran maupun keluarga pejuang yang mereka kunjungi.

Bentuknya beragam, mulai dari sembako, selimut hingga tali asih.

Namun, Aries menegaskan bahwa bingkisan bukan inti dari gerakan tersebut.

Menurut dia, hal yang jauh lebih penting adalah mempertemukan pelajar dengan para pejuang atau keluarganya sekaligus menumbuhkan rasa peduli dan hormat.

“Sembako, selimut maupun tali asih yang dibawa murid sebenarnya bukan tujuan utamanya. Yang paling penting adalah menghadirkan rasa hormat, kepedulian dan terima kasih generasi hari ini kepada para pejuang,” katanya.

Sejarah Tak Hanya Ada di Buku

Gerakan Murid Menjemput Sejarah pada dasarnya membawa pelajaran sejarah keluar dari ruang kelas.

Pelajar bisa mendengar langsung pengalaman, cerita, maupun pesan dari generasi yang memiliki hubungan dengan perjuangan kemerdekaan.

Bagi Dindik Jatim, cara tersebut sekaligus menjadi bagian dari pendidikan karakter. Nilai seperti menghargai perjuangan, peduli kepada sesama, dan mencintai bangsa diharapkan tidak berhenti sebagai materi pelajaran.

Melalui pertemuan sederhana antara murid dan veteran, sejarah diharapkan terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka. (wib/tyo)

Editor : Miko
HUT ke-81 RI Murid Menjemput Sejarah Dindik Jatim pendidikan karakter Jatim veteran Nganjuk