NGANJUK, RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM- Hembusan angin kemerdekaan memeluk pelataran Gedung Juang Nganjuk pada Senin pagi (17/8). Sekitar pukul 07.00 WIB, suasana khidmat perlahan menjelma menjadi ruang perenungan batin yang begitu mengharu biru.
Pagi tadi, bukan sekadar seremoni upacara biasa. Ada getar yang merayap di dada ketika Aris Nasution, SE. MPd, Kepala MTs Aisyiyah 1 Nganjuk yang berdiri tegak sebagai pembina upacara. Serta Danu Aji Setiawan, S.Pd yang menjadi petugas pembaca teks proklamasi yang menjadi wakil dari Dewan Guru SD Aisyiyah 1 Nganjuk.
Baca Juga: MTs Aisyiyah 1 Nganjuk Gelar Edu Trip ke Jakarta, Tingkatkan Rasa Percaya Diri dan Kemandirian Siswa
Upacara HUT RI ke-81 tahun ini, Aris menyematkan Anugerah Juang Pendidikan kepada enam orang yang sudah lama mengabdi di MTs Aisyiyah Nganjuk. Mereka yang menerima anugerah itu adalah staf MTs Aisyiyah 1 Nganjuk dengan kategori mengabdi selama 10 tahun yaitu Bapak Winarno dan Bapak Pairan (Mbah RAN).
Kemudian kategori guru sudah mengabdi lebih 10 tahun adalah Ibu Mertha Ike Andriani. Dan terakhir adalah kategori guru mengabdi hampir 10 tahun Ibu Nikma tus Shalihah, Ibu Istiqamah, dan Ibu Binti Nasiha. Selain guru juga ada tokoh yakni Bapak Ir. H Johan Widiatmiko, Bapak Drs. H Nurbiyantoro dan Bapak H A Budiono,
Saat Aris berada di podium amanat, keheningan kian membeku. Tiada untaian pidato panjang berbalut retorika kaku yang terlontar. Dengan suara yang sarat getaran kalbu, ia menumpahkan jeritan sejarah melalui bait-bait puisi karyanya yang bertajuk “Benderaku Tercabik”.
Setiap kata meluncur laksana rintihan saksi bisu masa lalu yang mengiris kalbu. Di hadapan tunas-tunas bangsa yang menatap terpaku, Aris membawa angan mereka melintasi lorong waktu—mengenang merahnya darah pengorbanan dan putihnya ketulusan para pahlawan yang telah merajut nusantara menjadi satu tarikan napas.
Baca Juga: SD 'Aisyiyah 1 Nganjuk Semarakkan Peringatan Hari Santri Nasional
“Pantang menangis karena lapar dan haus. Tetaplah melangkah walau tapak berdarah...” ucap Aris dengan intonasi lirih namun membakar sanubari, menitipkan pesan agar anak-anak didiknya tak gentar menatap kerasnya hidup demi menggapai ilmu.
Kata-kata itu jatuh bagai tetes embun di tengah dahaga, meresap ke dalam dada anak-anak yang mendengarkannya dengan mata berbinar dan rasa haru yang membuncah.
Baca Juga: MTs 'Aisyiyah 1 Nganjuk Pasang Target Juara!
Puisi itu akhirnya ditutup dengan ratapan pengharapan yang tulus: sebuah seruan untuk merapatkan barisan, menyatukan langkah yang rapuh, dan bersama-sama merawat ibu pertiwi dalam satu dekapan nusa dan bangsa.
Upacara pun purna, namun gema puisi tentang bendera yang tercabik itu masih tertinggal, mengambang di udara Gedung Juang, dan abadi di relung hati setiap anak yang hadir.
Puisi lengkap karya Aris Nasution:
Bendaraku Tercabik
Nyanyian merdu tak nyaring didengar
Bermacam lara menghantar ke pusara
Sinar mentari tak dirasa kehangatan
Berlimpah padi tidak mengusir lapar
Derasnya hujan namun haus dirasakan
Beruntung dengan menimpa sekitarnya
Berjaya dengan menggulung tetangganya
Bersukses dengan merampok saudaranya
Bersaing dengan memenggal harapan duafa
Indonesia terlalu indah alamnya
Nusantara yang luas didamba semua negeri
Kesuburan berbuah riuh membangunya
Compang dan camping Pertiwi bersolek
Negeriku disatukan oleh sang saka
Sang saka terhormat melambai semua harapan
Bendera berkibar memanggilmu
Bendera robek menunggumu
Bendera kusut memandangmu
Bendera nan gagah berani
Bendera nan bersih berseri
Kini semakin pudar keberaniann
Kini semakin susah untuk berseri
Sang saka tercabik oleh keangkuhan
Sang saka tercabik oleh keserakahan
Sang saka tercabik oleh banyak kebohongan
Sang saka berderai bertumpah darah
Hai anak anaku
Tak pantas menyerah untuk berjuang
Pantang mundur untuk terus belajar
Pantang menangis karena lapar dan haus
Tetap melangkah walau telapak berdarah
Tebalkan diri meraih asa mu
Mari bangun negeri, bersatu dalam nusa dan bangsa.
Editor : rekian