Jadi Guru karena Tidak Jago Menari
Kepala SMAN 1 Loceret Tutut Trijoto memiliki cerita unik yang membuatnya menjadi guru. Penyebabnya, Tutut tak jago menari. Tak disangka hal itu yang membawa Tutut menjadi guru hingga kepala sekolah.
KAREN WIBI-NGANJUK, JP Radar Nganjuk
“Saya lahir dan besar di Banyuwangi. Dulu teman-teman saya banyak yang jago menari. Kalau saya tidak,” ujar Kepala SMAN 1 Loceret Tutut Trijoto. Kalimat itu menjadi pengantar tentang kisah perjalanan Tutut kecil hingga menjadi kepala sekolah seperti saat ini.
Lalu apa kaitannya antara tidak jago menari dan menjadi kepala sekolah?
Menanggapi pertanyaan itu, Tutut lalu bercerita. Dulu, sewaktu Tutut masih kecil di Banyuwangi, banyak teman-temannya yang jago menari. Maklum, Banyuwangi memang terkenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi budaya berkesenian.
“Dulu ya sedih, tapi ya udah. Saya memilih fokus ke dunia akademik,” ujarnya.
Hasilnya, sesuai perkiraan perempuan yang kini berdomisili di Desa Selorejo, Kecamatan Bagor. Prestasinya cukup moncer. Setelah lulus sekolah, Tutut melanjutkan pendidikan di Universitas Jember. Tutut mengambil jurusan pendidikan matematika. “Setelah lulus, selang satu tahun saya diterima PNS. Penempatan di SMAN 1 Gondang,” tambahnya.
Tutut lama berkarir sebagai guru matematika di SMAN 1 Gondang. Total Tutut menjadi guru di Gondang selama lebih dari 27 tahun. Hingga sejak sekitar dua tahun terakhir dirinya resmi menjabat sebagai Kepala SMAN 1 Loceret.
Meski baru menjabat sebagai kepala sekolah, Tutut berhasil menorehkan banyak prestasi. Seperti berhasil meraih juara kedua di lomba video digital kreatif siswa, juara ketiga di lomba jurnalistik dan kedua di Kriya pada ajang FLS3N, masuk 10 besar lomba literasi film pendek, dan masih banyak yang lainnya.
"Prestasi anak didik saya mayoritas di bidang non akademik,” tandasnya sembari mengatakan jumlah penerimaan siswa di perguruan tinggi negeri juga terus naik per tahunnya.
Tentu Tutut masih memiliki banyak cita-cita sebagai Kepala SMAN 1 Loceret. Dirinya bertekad untuk mencetak sebanyak mungkin prestasi. Entah di bidang akademik hingga non akademik. “Kami juga terus fokus untuk meningkatkan jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri,” pungkasnya.
Editor : rekian