Menjadi kepala sekolah tidak pernah terbayang di diri Sidik Supriyadi. Guru matematika asal Madiun itu justru mengaku menerima amanah tersebut karena keadaan. Meski demikian, sejak dipercaya memimpin SMA Diponegoro Nganjuk pada 2021, dia melaksanaka tanggung jawab dengan baik. SMA Diponegoro Nganjuk mulai dikenal.
NOVANDA NIRWANA – NGANJUK, JP Radar Nganjuk
Sidik menjadi bagian dari SMA Diponegoro Nganjuk sejak 2015. Saat itu, dia menjadi guru matematika. Hingga kemudian, perubahan aturan membuat posisi kepala sekolah harus berganti. Kepala sekolah sebelumnya berstatus aparatur sipil negara (ASN).
Ketika muncul aturan yang tidak memperbolehkan ASN menjadi kepala sekolah di sekolah swasta, pihak sekolah harus mencari pengganti. “Menjadi kepala sekolah itu sebenarnya bukan keinginan saya, tapi karena keadaan,” ujarnya.
Amanah tersebut ternyata membawa tantangan tersendiri. Sebab, Sidik tidak hanya dituntut mengelola sekolah, tetapi juga ikut mengembalikan citra SMA Diponegoro Nganjuk di tengah masyarakat.
Sekolah tersebut, kata Sidik, pernah berada pada masa kejayaannya. Namun, seiring waktu, citra sekolah sempat meredup. Bahkan, SMA Diponegoro pernah dianggap sebagai sekolah yang hampir mati karena banyak siswanya tidak lulus. Cap sebagai sekolah dengan siswa yang nakal juga sempat melekat.
Kondisi itu yang kemudian menjadi pekerjaan rumah bagi Sidik bersama jajaran sekolah. Perlahan, mereka berusaha membangun kembali kepercayaan masyarakat. “Kami juga mempunyai tugas untuk mengembalikan image sekolah yang baik. Saat ini kami sedang memperbaiki image itu,” tuturnya.
Upaya tersebut tidak hanya dilakukan melalui kegiatan akademik. Sekolah juga berusaha menghadirkan program yang bisa memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Salah satunya melalui program produksi telur asin.
Awalnya, kegiatan tersebut hanya sebatas praktik siswa. Mereka belajar membuat telur asin sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran. Namun, setelah melihat manfaat yang didapat siswa, sekolah mengembangkannya menjadi program kokurikuler.
Program itu kemudian menjadi salah satu program unggulan SMA Diponegoro Nganjuk. Bahkan, Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) mendorong agar kegiatan tersebut dapat terus berkelanjutan dan tidak berhenti sebagai kegiatan praktik semata.
“Dalam pelaksanaannya, produksi dilakukan sekitar dua minggu sekali. Sekali produksi, siswa mampu menghasilkan sekitar 150 butir telur asin,” ujar Sidik.
Awalnya, pemasaran dilakukan secara sederhana. Pihak sekolah menawarkan produk tersebut kepada bapak dan ibu guru. Sistem pemesanan pun menggunakan open pre-order (PO), sehingga jumlah produksi menyesuaikan dengan pesanan yang masuk.
Di luar dugaan, respons yang diterima cukup besar. Pada pemesanan terakhir, sekolah bahkan mendapatkan sekitar 800 pesanan. “Awalnya kami berani menawarkan kepada bapak ibu guru. Sistemnya open PO dulu. Kalau ada pesanan, baru kami hitung berapa yang harus diproduksi,” jelas Sidik.
Program tersebut melibatkan sekitar 15 siswa. Mereka tidak hanya belajar bagaimana membuat telur asin, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengenai proses produksi hingga pemasaran.
Dari telur asin yang sederhana, Sidik berharap lahir perubahan yang lebih besar. Bukan hanya keterampilan siswa yang bertambah, tetapi juga perlahan mengubah pandangan masyarakat terhadap SMA Diponegoro Nganjuk. “Salah satu yang kami lakukan adalah membuat program-program yang bisa memberikan manfaat kepada siswa,” pungkasnya.
Editor : rekian