Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Asal Muasal Telolet, Pesona Suara Jalanan Indonesia

Elna Malika • Sabtu, 17 Mei 2025 - 20:00 WIB
Asal Muasal Telolet Pesona Suara Jalanan Indonesia
Asal Muasal Telolet Pesona Suara Jalanan Indonesia

JP Radar Nganjuk - Di tengah hiruk-pikuk jalanan Indonesia, ada satu suara yang pernah mengguncang dunia maya dan jalan raya, klakson telolet.

Bunyi khas “tet-telolet-tet” dari bus antarkota antarprovinsi (AKAP) ini bukan sekadar suara, melainkan fenomena budaya yang menghibur anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.

Artikel ini akan menelusuri sejarah klakson telolet, mengungkap asal-usulnya, dan menjelaskan mengapa suara sederhana ini begitu dicintai banyak orang.

Klakson telolet pertama kali muncul bukan di Indonesia, melainkan di Timur Tengah, tepatnya di Arab Saudi.

Awalnya, klakson ini digunakan untuk mengusir unta atau hewan lain yang menghalangi jalan.

Suara nyaring dan ritmis ini terdengar unik, sehingga menarik perhatian seorang pengusaha bus Indonesia, Teuku Eri Rubiansah, sekitar satu dekade lalu.

Ia membawa konsep klakson ini ke Indonesia dan memasangnya pada armada bus PO Efisiensi, khususnya untuk rute seperti Purwokerto-Yogyakarta.  

Awalnya, klakson ini menuai protes karena suaranya yang keras mengganggu. Namun, seiring waktu, sekitar tahun 2014-2015, anak-anak di pinggir jalan mulai menyukai suara ini.

Mereka berteriak “Om Telolet Om” untuk meminta sopir bus membunyikan klakson, sebuah tradisi yang awalnya sederhana namun kemudian meledak menjadi fenomena global pada tahun 2016.

Istilah “telolet” sendiri adalah onomatope, tiruan bunyi klakson yang ritmis, dan frasa “Om Telolet Om” berarti ajakan sopan kepada sopir (“om” artinya paman atau pak) untuk membunyikan klakson.  

Puncak kepopuleran telolet terjadi ketika video anak-anak di Jepara, Jawa Tengah, yang meminta klakson telolet di pinggir jalan, menjadi viral di media sosial.

Fenomena ini menyebar cepat, bahkan menarik perhatian musisi dunia seperti DJ Snake, Zedd, dan Martin Garrix, yang membuat remix berbasis suara telolet.

Bahkan, akun media sosial tokoh seperti Donald Trump diserbu komentar “Om Telolet Om” oleh netizen Indonesia.  

Mengapa Telolet Begitu Disukai?

Ada beberapa alasan mengapa klakson telolet begitu memikat hati masyarakat, baik di Indonesia maupun dunia:

1. Kesederhanaan yang Menghibur

Telolet menawarkan kegembiraan dari hal sederhana. Anak-anak dan remaja yang berdiri di pinggir jalan, berteriak meminta klakson, lalu bersorak saat suara telolet terdengar, mencerminkan kebahagiaan yang murni.

Fenomena ini membuktikan bahwa hiburan tidak selalu harus rumit atau mahal. Budayawan Prie GS menyebutnya sebagai “sedekah kegembiraan” dari sopir bus kepada anak-anak.  

2. Kreativitas dan Identitas Budaya

Klakson telolet bukan sekadar suara, tetapi juga wujud kreativitas. Sopir bus memodifikasi klakson angin dengan resonator dan kompresor untuk menciptakan nada yang unik, bahkan ada kompetisi klakson di kalangan penggemar bus.

Bagi komunitas “bus mania”, telolet menjadi ciri khas yang membedakan bus pariwisata Indonesia dari kendaraan lain, sekaligus memperkuat ikatan sosial antara sopir dan penggemar.  

3. Kekuatan Media Sosial

Era digital menjadi katalis utama kepopuleran telolet. Video-video pendek di platform seperti Instagram, Twitter, dan YouTube mempercepat penyebaran tren ini.

Ketika musisi internasional ikut merespons, telolet berubah dari fenomena lokal menjadi global.

Media sosial juga memungkinkan anak muda untuk berbagi keceriaan mereka, menjadikan telolet simbol interaksi yang menyenangkan di dunia maya.  

4. Nostalgia dan Interaksi Sosial

Bagi banyak orang, telolet membawa nostalgia masa kecil, saat menunggu bus lewat di pinggir jalan adalah petualangan kecil yang seru.

Interaksi antara sopir dan anak-anak di jalan menciptakan hubungan sosial yang hangat, meski sederhana. Sopir merasa dihargai, sementara anak-anak mendapat hiburan gratis.  

5. Tantangan dan Kontroversi

Meski populer, telolet juga menuai kritik. Suara kerasnya dianggap mengganggu, terutama di kawasan perkotaan, dan menyebabkan polusi suara.

Lebih serius lagi, tren “berburu telolet” memakan korban jiwa. Beberapa kecelakaan fatal terjadi ketika anak-anak mengejar bus untuk mendengar klakson, seperti di Cilegon (2024) dan Pemalang (2023).

Selain itu, penggunaan klakson telolet dapat mengurangi tekanan angin pada sistem rem bus, meningkatkan risiko kecelakaan.

Akibatnya, pemerintah Indonesia melarang penggunaan klakson telolet melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 55 Tahun 2012, dan beberapa daerah seperti Bandung dan Solo memperketat pengawasan.  

Klakson telolet adalah cerminan jiwa kreatif dan keceriaan masyarakat Indonesia.

Dari asal-usulnya di Timur Tengah hingga menjadi fenomena global, telolet menunjukkan bagaimana hal sederhana bisa menyatukan orang melalui tawa dan kegembiraan.

Meski kini dilarang karena alasan keselamatan, kenangan tentang “Om Telolet Om” tetap hidup sebagai bagian dari budaya pop Indonesia.

Fenomena ini mengajarkan kita bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal kecil, selama kita melakukannya dengan bijak dan bertanggung jawab.

 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#kesederhanaan #SUARA #telolet #identitas #om telolet om #klakson #radar nganjuk berita hari ini #kreativitas #Menghibur #nostalgia #media sosial #akap #jalanan