NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Mahmud Irawan, 28, warga Kelurahan Payaman, Nganjuk harus mengurungkan niatnya untuk mandi malam pada Minggu (28/1). Saat hendak ke kamar mandi, dia dikejutkan oleh seekor ular Kobra Jawa di dekat bak mandinya.
Melihat ular yang memiliki bisa mematikan itu dalam posisi siaga, Mahmud lalu berlari ke bagian depan rumahnya. Takut ular tersebut menyerangnya, dia lalu menghubungi Damkarmat Kabupaten Nganjuk agar menangkap ular tersebut. “Langkah Pak Mahmud ini sudah tepat melaporkan kejadian itu ke damkarmat. Kami lakukan evakuasi sesuai SOP,” ujar Kepala Dinas Damkarmat Kabupaten Nganjuk Sujito.
Bukan saja di rumah Mahmud, seekor ular tanah juga membuat warga Desa Babadan, Pace geger pada Sabtu (27/3) lalu. Ular berbisa itu ditemukan di dalam rumah warga ketika bersembunyi di bawah lemari baju milik Ridwan Kusuma, 43. Diduga, ular itu masuk ke rumah karena mengajar tikus.
Ridwan yang ketakutan melaporkan insiden itu ke Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Nganjuk. Ular tanah dikenal berbisa, jadi sangat berbahaya bagi manusia.
Masuknya ular tanah ke dalam rumah menjadi peringatan bagi masyarakat Kota Angin. Sebab, binatang melata itu biasanya lebih suka di tempat yang gelap. Untuk ular tanah menyukai rumpun bambu, lahan yang ditumbuhi tanaman, atau hutan sekitar rumah. Reptil ini suka pada tempat yang banyak tikusnya.
Menurut Jito, ular yang bisa masuk rumah bukan saja jenis ular tanah tapi juga jenis ular lainnya. “Dalam seminggu ini, kami menerima tiga laporan terkait dengan ular,” ucapnya. Selain ular tanah, petugas juga mengamankan ular Kobra Jawa dan Sanca. Ketiganya merupakan ular yang dapat membahayakan nyawa manusia.
Sedangkan yang terakhir, atau ular yang ditemukan pertama dalam satu minggu itu berada di di gorong-gorong sungai di Desa Sidokare, Kecamatan Rejoso pada Selasa (23/1). Warga yang hendak melakukan bersih-bersih di sungai kecil itu melihat sesuatu yang menggeliat di sana. Saat dicek, ternyata ada ular.
Beruntung dari para pekerja yang sedang membersihkan sungai, tidak ada yang diserang juga. Ular sepanjang 4 meter itu hanya lewat saja. Namun, warga tetap takut apabila ditangani sendiri, ular tersebut bisa menyerang.
“Memang kalau sanca atau piton, kan, tidak memiliki bisa yang beracun. Namun giginya kan juga tajam dan lilitannya itu kuat. Tetap dihitung berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat,” pungkas Jito Damkar.
Damkarmat Kabupaten Nganjuk mengimbau kepada warga untuk tidak gegabah jika menemukan ular. Segera laporkan ke pihak Damkarmat atau perangkat desa setempat.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk