Hama wereng menyerang padi di Kota Angin. Hal itu membuat petani padi waswas. Seperti yang dialami Sofuan, 56, petani padi asal Desa Girirejo, Kecamatan Bagor. Dia menyebutkan, serangan hama wereng itu akan berdampak pada gagal panen karena produksinya turun. “Kalau sudah terserang hama wereng, panen tidak akan bisa maksimal,” ujarnya. Untuk petani yang lahannya sempit bisa alami gagal panen.
Di Bagor, rata-rata produksi padi untuk satu hektare sebanyak 6-7 ton. Namun, di musim tanam kedua, panen bisa mengalami penurunan hingga 5-6,5 ton per hektare. Hasil tersebut akan turun lagi jika terjadi ledakan hama wereng.
Dia menyebutkan, di tahun-tahun sebelumnya, hama wereng meledak di musim tanam kedua. Meskipun petani sudah berupaya menggunakan obat-obatan, panen di musim tanam kedua tidak pernah mencapai 100 persen. Hal itu disebabkan karena munculnya hama wereng. Apalagi musim tanam saat ini masuk pancaroba. "Biasanya, hama wereng mulai berkembang di akhir musim tanam pertama atau mendekati panen. Terjadi sekitar Februari-Maret," terangnya. Untuk mencegah terjadinya musibah serangan hama wereng tersebut Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Nganjuk telah melakukan penyemprotan agen pengendali hayati (APH).
Penyemprotan itu untuk mengatasi hama wereng. "Hasilnya sudah mulai terlihat. Sekarang werengnya sudah tidak ke padi. Semoga keberadaannya mulai berkurang," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Korwil Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Bagor Agus Susanto Doni Bahtiar mengatakan, pencegahan meledaknya hama wereng wajib untuk dilaksanakan. Setidaknya, Pemkab Nganjuk bisa mengurangi beban petani yang mengeluh biaya tanam yang tinggi dan harga panen rendah.
BPP Bagor mendorong petani untuk berinovasi dalam mengurangi biaya perawatan hama. Salah satunya dengan memanfaatkan layanan penyemprotan APH gratis yang disediakan oleh Dispertan. "Kami berharap petani juga bisa membuat APH sendiri, sehingga tidak harus tergantung dari dinas dan menunggu giliran penyemprotan," imbuhnya.
Kepala Dispertan Kabupaten Nganjuk Muslim Harsoyo mengatakan, pihaknya telah memberikan solusi alternatif dengan menyediakan APH gratis. "Sudah dicoba di beberapa kecamatan. Hasilnya untuk tanaman padi memang lebih baik untuk pencegahan hama," ungkapnya.
Penyemprotan APH dilakukan bertahap. Hal tersebut berdasarkan permintaan dari petani. Sebab produksi APH minim dan permintaan yang tinggi.