NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Puluhan warga di Kecamatan Kecamatan Ngetos meminta ganti rugi ke Pemkab Nganjuk. Karena mereka mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Hal itu akibat 44 sapi milik warga di sana, mati mendadak. "Saya hanya memiliki seekor sapi dan mati mendadak. Padahal, sapi saya sedang hamil 7 bulan," ungkap Rasemi, lansia asal Kecamatan Ngetos.
Rasemi berharap, pemkab memberikan ganti rugi. Karena sapi yang dibeli saat pedet seharga Rp 12 juta itu adalah satu-satunya harta Rasemi. Rencananya, setelah melahirkan, anak sapi akan dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi," keluhnya.
Rasemi menganggap sapi mati mendadak itu termasuk bencana. Karena hal itu menimpa puluhan warga. Jadi, pemkab seharusnya memberikan ganti rugi untuk meringankan beban warganya.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk Muslim Harsoyo melakui Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Siti Farida mengatakan, warga yang sapinya mati mendadak bisa saja mendapat bantuan dari Pemkab Nganjuk. Namun bukan dalam bentuk ganti rugi. "Bentuk bantuannya adalah hibah," tandasnya.
Ada perbedaan antara ganti rugi dengan hibah. Jika ganti rugi, warga pasti akan mendapat. Kemudian, besaran nilai yang didapat akan sama seperti nominal atau harga sapi yang mati. Namun, jika hibah, tingkat keberhasilan hanya fifty-fifty.
“Hibah bisa diberikan jika memang ada anggaran di APBD Kabupaten Nganjuk,” terangnya.
Untuk mendapatkan hibah juga tidak mudah. Ada syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah membentuk paguyuban. Nantinya anggota paguyuban tersebut adalah mereka yang menjadi korban karena sapinya mati mendadak.
Selain itu, warga juga harus mengajukan proposal. Proposal tersebut akan diajukan melalui dinas terkait. Jika benar ada anggaran di APBD Nganjuk tahun depan, Farida optimistis warga bisa mendapat hibah karena sapi mati mendadak.
“Kami di dinas akan bantu warga yang sapinya mati mendadak agar mendapat hibah,” ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan sapi ditemukan mati secara tak wajar di Kecamatan Ngetos. Total ada 44 sapi yang mati di tiga desa berbeda. Yaitu di Desa Suru, Blongko, dan Ngetos.
Hingga kemarin belum ada kepastian racun yang menyebabkan sapi mati mendadak. Pihak dinas pun mengaku kesulitan dalam mengungkap racun. Karena dinas kesulitan mendapatkan sampel organ dalam sapi yang mati mendadak dan rumput yang terakhir dikonsumsi. Maklum, banyak warga baru melapor sapinya mati mendadak beberapa hari setelah kejadian. Sapi juga telah dikubur atau dijual saat dalam kondisi sekarat.
Di sisi lain, Polres Nganjuk dan Polsek Ngetos juga masih menyelidiki ada atau tidaknya unsur kesengajaan dalam kasus puluhan sapi mati mendadak yang diduga keracunan itu. Puluhan saksi pun dipanggil. Mulai dari si pemilik sapi, perangkat desa hingga pegawai kecamatan. (wib/tyo)