Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Debit Brantas Meningkat, Pembongkaran Jembatan Kertosono Tersendat

Redaksi Radar Nganjuk • Rabu, 18 Desember 2024 | 18:12 WIB
Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Hujan yang mengguyur Nganjuk dan sekitarnya mengganggu pembongkaran Jembatan Lama Kertosono. Karena akibat dari hujan deras tersebut, debit air Sungai Brantas meningkat. Kemudian, arus sungai menjadi deras. Sehingga, pekerja tidak berani membongkaran rangka jembatan.  “Harus nunggu debit dan arus Sungai Brantas normal untuk pembongkaran Jembatan Lama Kertosono,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Nganjuk kemarin.

          Lalu kapan pembongkaran akan dilakukan? Menanggapi pertanyaan itu, Gunawan belum bisa memastikan. Karena keputusan kapan jembatan dibongkar menjadi wewenang dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN). Apalagi, saat ini hujan turun setiap hari.

          Hal senada dikatakan oleh Camat Kertosono Mashudi Nurul Huda. Dia mengatakan terus berkoordinasi dengan pihak terkait tentang pembongkaran jembatan. Dari hasil koordinasi, pembongkaran akan segera dilakukan setelah kondisi arus Sungai Brantas kembali normal. “Hari ini (kemarin, Red) ada koordinasi lagi karena debit sungai meningkat,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Jembatan Lama Kertosono ambles pada 10 September lalu. Sisi jembatan yang ambles tersebut berada di sebelah barat. Penyebabnya adalah karena bangunan yang sudah terlalu tua.

Pasca ambles, kondisi jembatan semakin mengenaskan. Salah satunya karena rangka bawah yang terus tergerus aliran Sungai Brantas. Jika tidak segera diperbaiki dalam waktu dekat, jembatan tersebut dapat ambruk.

Pembangunan jembatan yang menghubungkan wilayah Kabupaten Nganjuk-Kediri rencananya akan dilakukan pada tahun depan. Itu setelah kunjungan Menteri Pekerjaan Umum (PU) pada November lalu.

Setidaknya pembangunan jembatan itu akan menghabiskan anggaran sekitar Rp 26 miliar. Beruntung anggaran tersebut nantinya akan menggunakan APBN. Sedangkan model jembatan baru akan dibuat sama persis dengan jembatan lama atau replikasi. (wib/tyo)

Editor : Redaksi Radar Nganjuk