VIRUS penyakit mulut dan kuku (PMK) tidak hanya merugikan penjual sapi. Namun juga pemilik warung yang berada di Pasar Hewan Kedondong. Bagaimana bisa? “Sekarang yang datang ke pasar sudah sepi,” ujar Yanti, 35, seorang pemilik warung asal Kelurahan Kedondong, Kecamatan Bagor kepada wartawan koran ini.
Yanti menceritakan, sejak virus PMK menyebar, arus lalu lintas di dalam pasar semakin diperketat. Banyak penjual sapi yang dilarang masuk ke pasar. Di satu sisi lainnya, banyak pembeli sapi yang juga ogah ke pasar. Dengan dalih takut sapi yang dibelinya sudah terjangkit PMK.
Selain itu, pintu masuk sebelah timur di Pasar Hewan Kedondong kini ditutup. Keluar masuk hanya diperbolehkan melalui pintu barat. Alhasil kegiatan jual beli hanya fokus di area barat. Sedangkan, di sebelah timur kini menjadi sepi.
Hal itu tentu membat pembeli di warung milik Yanti ikut sepi. Untuk hitung-hitungannya, dalam satu hari, dia biasa mendapat omzet hingga Rp 200 ribu. Kalau sekarang? “Kalau pas sepi gini ya tidak sampai Rp 100 ribu,” tambahnya.
Tentu hal itu membuat Yanti dan pemilik warung lainnya pusing. Dia pun berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk lebih sat-set dalam menangani virus PMK. Dengan itu pasar dapat bukan secara normal. Otomatis warung miliknya dapat kembali ramai seperti semula. “Semoga dapat kembali ramai seperti dulu,” tandasnya.
Sementara itu, virus PMK juga membuat penjual sapi merugi. Seperti yang dikatakan oleh Murtadi, 45, pedagang asal Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Dia mengatakan, virus PMK sangat membuatnya kerepotan. Salah satu alasannya karena harga sapi yang kini anjlok. Tidak tanggung-tanggung, harga sapi bisa turun Rp 2 juta hingga Rp 4 juta per ekornya. “Padahal sapinya ya sehat, tapi harganya tetap turun drastis,” ujarnya.
Seperti sapi miliknya. Sabtu kemarin dia hendak menjual sapi. Jika dalam kondisi normal, sapi jenis Simental miliknya biasa dihargai Rp 17 juta. Namun kemarin, sapi miliknya ditawar di kisaran Rp 13 juta. “Ya pusing kalau harganya murah gini,” tandasnya sembari berharap agar pasar tidak ditutup. (wib/tyo)
Editor : Redaksi Radar Nganjuk