NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Banjir di Kabupaten Nganjuk menelan korban jiwa. Dua balita asal Kecamatan Sukomoro yang menjadi korbannya. Mereka adalah M. Toha Hasan Jaddit, 2, asal Kelurahan Kapas dan Salman Bahanan Dizaro, 3, asal Desa Bagorwetan.
Korban pertama adalah Hasan. Dia terseret banjir di depan rumahnya yang berada di Kelurahan Kapas pada Selasa (28/1) sekitar pukul 17.00 WIB.
Hasan baru ditemukan sekitar pukul 18.00 WIB. Lokasi penemuannya tidak jauh dari rumahnya. Sayang saat ditemukan, korban sudah dalam keadaan meninggal dunia.
Di waktu yang nyaris bersamaan, yaitu sekitar pukul 17.30 WIB, Salman diduga terperosok ke sungai. Lokasi sungai berada di samping rumahnya. Dia juga ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Kapolsek Sukomoro AKP Sukamto mengatakan, kedua peristiwa itu akibat banjir yang terjadi di Kecamatan Sukomoro pada Selasa sore.
“Dua balita meninggal dunia karena tenggelam,” ujarnya.
Kejadian pertama menimpa Hasan. Sore itu, sekitar pukul 17.00 WIB, korban baru pulang dari masjid bersama sang kakak. Hingga tiba-tiba saja air dari sungai meluap. Membanjiri jalanan desa.
Sebelum air naik, keduanya memutuskan untuk pulang. Setibanya di depan rumah, sang kakak masuk rumah.
Sedangkan korban masih bermain di halaman rumah.
Debit air di jalanan desa terus naik. Hingga puncaknya banjir mencapai tinggi sekitar 40 sentimeter (cm).
Karena khawatir, orang tua korban mencoba mencari sang anak. Sayang saat dicari, korban sudah tidak berada di halaman rumah.
“Orang tua korban lalu meminta pertolongan warga,” ujarnya.
Proses pencarian oleh warga langsung dilakukan. Tak berselang lama, sekitar pukul 18.30 WIB, korban ditemukan. Dia ditemukan di area perkebunan warga.
Tersangkut pohon nangka. Diketahui lokasi tersebut menjadi jalur aliran air menuju ke sawah. Sayang saat ditemukan korban sudah dalam keadaan meninggal dunia. Warga lalu membawa korban ke Rumah Sakit Islam (RSI) Nganjuk.
“Dari pemeriksaan tidak ada tanda-tanda kekerasan pada korban. Dia meninggal dunia karena tidak bisa berenang” ujar Sukamto.
Sekitar pukul 17.30 WIB, Salman diduga juga menjadi korban banjir. Dia terseret arus sungai. Lokasinya di dekat rumahnya di Desa Bagorwetan, Kecamatan Sukomoro.
Sama seperti Hasan, Salman saat itu juga baru saja pulang dari mengaji bersama sang kakak.
Seperti anak kecil pada umumnya, sepulang mengaji, Salman bermain bersama kakak dan teman-temannya. Mereka bermain sepak bola di halaman masjid.
Di tengah-tengah permainan, sang kakak pulang ke rumah terlebih dahulu. Meninggalkan Salman yang masih asyik bermain sepak bola.
Hingga air sungai yang lokasinya berada di depan masjid mulai meluap. Hal itu lalu membuat orang tua korban khawatir.
Mereka lalu mencari sang anak ke halaman masjid. Kebetulan jarak antara masjid dan rumah korban sangat dekat. Hanya sekitar 20 meter saja. Sedangkan jarak halaman masjid ke sungai lebih dekat lagi, hanya sekitar lima meter.
“Saat dicari sudah tidak ada siapa-siapa. Orang tua mencoba berpikiran positif dengan mencari di dalam rumah, tapi tetap tidak ada,” ujar Sukamto.
Karena tidak ada, orang tua korban menjadi panik.
Mereka meminta pertolongan warga sekitar. Hingga malam harinya, warga dibantu petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk terus mencari korban. Sayang hasilnya nihil. Proses pencarian lalu dilanjutkan hingga kemarin.
Sementara itu, Plt BPBD Kabupaten Nganjuk Budianto mengatakan, proses pencarian korban membuahkan hasil. Kemarin siang (29/1) sekitar pukul 13.00 WIB korban ditemukan oleh tim gabungan. Dia ditemukan sekitar 2,7 kilometer (km) dari titik awal.
Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
“Kami pastikan korban meninggal karena tenggelam,” ujarnya singkat. (wib/tyo)