Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Kenapa Harus Menunggu Ada Korban Jiwa? Pemkab Wajib Normalisasi Sungai Kapas

Karen Wibi • Jumat, 31 Januari 2025 | 03:29 WIB
Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar ­Nganjuk- Warga Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro mulai kehabisan rasa sabarnya. Apalagi, setelah meninggalnya balita bernama M. Toha Hasan Jaddit, 2, banjir pada Selasa malam (28/1). Kini warga menuntut langkah konkret dari pemerintah daerah (pemda) untuk mencegah banjir susulan terjadi. “Harus normalisasi Sungai Kapas agar tidak meluap saat hujan deras,” tandas Nurhamsyah, 31, salah satu warga Kelurahan Kapas.

Menurut bapak satu anak ini, Lingkungan Santren, Kelurahan Kapas menjadi langganan banjir selama ini. Beberapa kali warga sudah menyampaikan usulan kepada Kelurahan Kapas untuk membangun tanggul permanen dan normalisasi Sungai Kapas. Karena saat wilayah pegunungan diguyur hujan deras, air Sungai Kapas meluap. Hingga mengakibatkan banjir. Puncaknya, Hasan meninggal dunia karena banjir. “Jangan ada lagi korban jiwa akibat banjir,” tandasnya.


Nurhamsyah mengatakan, kelurahan, kecamatan, hingga pemkab tidak boleh tutup mata dengan apa yang dialami warga Kelurahan Kapas. Karena jika hal ini dibiarkan maka banjir akan kembali terjadi. Lalu, akan ada korban jiwa lagi. “Kenapa harus menunggu korban jiwa jika mau bertindak. Yang punya anggaran itu kan pemerintah, apa salah jika kami meminta bantuan kepada pemerintah?. Juga sudah kewajiban pemerintah untuk mengayomi masyarakatnya. Kami masyarakat juga sudah berulang kali memperbaiki tanggul selama bertahun-tahun secara swadaya, ” ujarnya.


Sementara itu, Lurah Kapas Helen mengatakan, dirinya sangat terpukul dengan meninggalnya Hasan. Terlebih proses meninggalnya balita tersebut karena banjir yang terjadi di lingkungan yang dia pimpin. “Segala upaya untuk penanggulangan banjir sudah kami lakukan dan terus akan kami lakukan,” ujarnya.


Helen mengatakan, karena keterbatasan anggaran, pihaknya telah mengirim surat ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Nganjuk untuk melakukan penanganan pencegahan banjir di Kelurahan Kapas. Kini. pihak kelurahan menunggu respons dari BPBD Nganjuk dan Dinas PUPR Nganjuk. “Harapannya ada tindakan langsung dari BPBD atau Dinas PUPR,” harapnya.


Terpisah, Kepala Dinas PUPR Nganjuk Gunawan Widagdo mengatakan, pihaknya sudah melakukan asesmen pada kejadian yang terjadi di Kelurahan Kapas yang membuat seorang balita meninggal. Pihaknya juga berkoordinasi dengan BPBD untuk melakukan penanganan.


Lalu apa langkah konkret dari pemda? Menanggapi pertanyaan itu, Gunawan mengatakan, normalisasi sungai hingga pembangunan plengsengan sangat mungkin dilakukan. Sayangnya, di tahun ini, dinas tidak menganggarkan untuk hal itu. Namun masih ada solusi, pembangunan masih bisa dilakukan dengan menggunakan dana belanja tidak terduga (BTT). “Akan kami koordinasikan terlebih dahulu dengan BPBD Nganjuk,” tambahnya.


Perlu diketahui, ada dua balita yang meninggal dunia karena banjir di Kecamatan Sukomoro. Selain Hasan, ada satu balita lagi. Dia adalah Salman Bahanan Dizaro, balita asal Desa Bagorwetan. Mereka meninggal dunia pada Selasa malam (28/1). (wib/tyo)

Editor : Redaksi Radar Kediri
#banjir #korban banjir #nganjuk #radar nganjuk #bencana